post image
KOMENTAR

Pemerintah kemungkinan besar akan memperpanjang kontrak kerja sama blok migas Makassar Strait yang masuk dalam proyek laut dalam atau Indonesia deepwater development dengan operator Chevron Indonesia Company.

Wakil Menteri ESDM, Susilo Siswoutomo, di Jakarta,  mengatakan, kalau kontrak tidak diperpanjang, proyek IDD tidak ekonomis.

"Jadi, kemungkinan besarlah (diperpanjang)," katanya, dilansir antaranews.com, Jum'at (25/7/2014).

Saat ini, menurut dia, pembahasan perpanjangan kontrak itu masih berlangsung dan optimistis diputuskan sebelum Oktober 2014.

Keputusan perpanjangan kontrak Makassar Strait merupakan salah satu program prioritas pemerintah di sektor ESDM yang akan dituntaskan sebelum berakhirnya pemerintahan Presiden Susilo Yudhoyono pada 20 Oktober 2014.

Prioritas lain, penerbitan Peraturan Menteri ESDM tentang kontrak kerja sama migas yang akan berakhir, dan penetapan kepala Satuan Kerja Khusus Pengelola Hulu Minyak serta Gas Bumi dan wakil kepala SKK Migas.

Lalu, pengeboran sumur PLTP Sarula 3x110 MW dan pengoperasian PLTP Patuha I 55 MW, PLTU Tanjung Balai Karimun 2x7 MW, PLTU Teluk Sirih Unit I 112 MW, dan PLTU Nagan Raya 2x110 MW, serta penerbitan PP Kebijakan Energi Nasional dan revisi UU Panas Bumi.

Proyek IDD mencakup empat kontrak kerja sama yaitu Ganal, Rapak, Makassar Strait, dan Muara Bakau dengan lima lapangan yakni Bangka, Gehem, Gendalo, Maha dan Gandang.

Blok Ganal, Rapak, dan Makassar Strait dikelola Chevron, sementara Muara Bakau oleh Eni Spa.

Lapangan Bangka ditargetkan beroperasi pada 2016 dan disusul Gehem dan Gendalo pada 2018.

Perpanjangan kontrak Blok Makassar Strait yang habis 2020 diusulkan menjadi 2028 agar proyek IDD menjadi ekonomis.

Proyek IDD ditargetkan berproduksi 1.270 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Sebagian produksi tersebut akan diekspor dan lainnya ke domestik. Sesuai surat alokasi Menteri ESDM, minimal 25 persen produksi IDD untuk domestik.

Pasokan ke domestik direncanakan ke FSRU Jawa Barat 53 kargo (2018-2021), Terminal Arun 20 kargo (2017-2021), FSRU Lampung 37 kargo (2016-2018), FSRU Banten 30 kargo (2016-2021), dan FSRU Jawa Tengah 39 kargo (2016-2021).

Saat ini, Chevron sudah mendapat kepastian pembeli IDD dengan volume tertentu yang memungkinkan proyek mencapai tahap investasi akhir (final investment decision/FID).

Selain perpanjangan kontrak, pemerintah juga tengah memproses usulan kenaikan investasi IDD yang diajukan Chevron dari 6,9 miliar dolar AS sesuai POD pada 2008 menjadi 12 miliar dolar Amerika Serikat.[ant/rgu]

Kemenkeu Bentuk Dana Siaga Untuk Jaga Ketahanan Pangan

Sebelumnya

PTI Sumut Apresiasi Langkah Bulog Beli Gabah Petani

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Ekonomi