post image
KOMENTAR
Kenaikan harga beras belakangan ini patut ditengarai adanya unsur kesengajaan. Terdapat kekuatan besar yang mengubah hukum besi harga, di mana jika suplai besar dan ada harapan lebih besar lagi maka harga cenderung turun.

Tetapi yang terjadi saat ini justru sebaliknya, lantaran harga naik tinggi di saat stok beras cukup. Ditambah sebentar lagi ada tambahan suplai hasil panen raya.

"Siapa yang bisa mengubah hukum besi harga, pasti mereka yang memiliki kekuatan besar. Pelakunya pasti tidak banyak karena tidak mungkin banyak orang bisa bersepakat untuk memainkan harga," kata politikus Partai Golkar Sarmuji dalam keterangannya kepada redaksi di Jakarta, Sabtu (28/2/2015).

Dia membeberkan beberapa motif pelaku untuk memainkan harga beras di pasaran. Antara lain, membuka keran impor dengan memberi imajinasi bahwa stok beras tidak cukup, serta melepas stok di gudang dengan harga relatif tinggi. Begitu pemerintah ikut melepas beras dengan harga rendah dalam waktu berdekatan panen raya maka harga terjun bebas sehingga pemain pasar membeli beras dengan harga rendah.

"Jadi, para pemain untung dua kali, melepas stok dengan harga tinggi dan membeli beras fresh dengan harga rendah," beber Sarmuji yang juga anggota Komisi VI DPR.

Sebagai solusi jangka pendek, lanjutnya, program raskin untuk bulan Februari harus dipercepat. Saat ini, raskin untuk bulan Januari baru dibagikan pada pertengahan Februari.  

"Operasi pasar harus dipercepat secara simultan sehingga awal Maret harga sudah stabil dan tidak perlu operasi pasar lagi. Jika pertengahan Maret masih operasi pasar dikhawatirkan akan mengganggu harga di tingkat petani karena harga bisa turun secara drastis," jelas Sarmuji.[rgu/rmol]

Kemenkeu Bentuk Dana Siaga Untuk Jaga Ketahanan Pangan

Sebelumnya

PTI Sumut Apresiasi Langkah Bulog Beli Gabah Petani

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekonomi