Rabu, 20 Mei 2015 , 14:13:00 WIB

Semayang, Desa Penyembah Sang Hyang

Oleh: Murti Latia

KELURAHAN Semayang terletak melintang di jalan penghubung Medan-Aceh. Kelurahan yang secara administratif tercatat sebagai bagian dari Kabupaten Deli Serdang itu merupakan sebuah desa yang cukup lama didiami penduduk.

Jauh sebelum masa pembangunan perkebunan tembakau di era Deli Maatschappij, desa ini sudah dihuni oleh serumpun suku setempat yang terdiri dari etnis karo. Seiring dengan pesatnya perkembangan perkebunan tembakau dan politik etis yang disponsori Pemerintah Hindia Belanda, wilayah ini pun kemudian semakin ramai dengan kehadiran suku pendatang dari Pulau Jawa.

Hari ini, jauh setelah Deli Maatschappij bubar dan diganti dengan Perkebunan Negara, tempat ini sudah dihuni oleh beraneka ragam penduduk etnis. Hal itu membuat Semayang menjadi salah satu desa terpadat yang dimiliki Kabupaten Deli Serdang.

Pertumbuhan ekonomi pun melaju seiring dengan pertumbuhan penduduk. Warga yang dulunya diidentikkan sebagai werker (kuli) perkebunan ini pun kini sudah hidup dari berbagai macam jenis mata pencaharian.

Menurut Suwarno (60) seorang tokoh dari desa ini, perkembangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat Desa Semayang semakin jelas tampak paling tidak sejak satu generasi terakhir.

Di Semayang, kata Suwarno, hari ini sudah banyak ditemukan pabrik. Pensiunan Dinas Pertamanan kota Medan ini pun mengatakan  hal itu merupakan pemandangan yang mencolok dari perubahan masyarakat Semayang. "Sebelumnya, warga di Semayang hidup dari perkebunan. Sebagian desa ini berdiri di atas lahan milik Perkebunan. Namun,  sejak satu generasi terakhir, penduduk mulai keluar dan memulai jenis mata pencaharian yang lain. Sebagian besar warga yang semula menjadi buruh perkebunan, kini lebih banyak pergi mencari sumber kehidupan di sektor lain. Salah satunya adalah pabrik,"
 

Sembahyang


Sedikitnya, sebelas kuil pemujaan Hindu berdiri megah di Deli Serdang. Kesebelas kuil itu memiliki jamaah yang banyak. Salah satunya berdiri di Desa Semayang. Kuil Shri Mariamman itu terletak di Kampung Kelingan.

Dari namanya, kampung itu memang memang dihuni etnis tamil. Konon kabarnya orang-orang ini pun berdatangan setelah pintu keran pekerja dibuka lebar oleh Deli Maatschappij. Menurut Suwarno, saat ini sedikitnya ada 200 kepala keluarga etnis tamil yang tersebar di penjuru Desa Semayang. Mereka melaksanakan ibadah setiap hari dan pada hari jumat, kuil Shri Mariamman tampak ramai.

"Era 1970 an, kita masih bisa menikmati ritual keagaaman Hindu. Hari raya Depawali pun kerap digelar di Desa ini," ujar Suwarno.

Dikatakan Suwarno, konon aktivitas keagamaan Hindu di wilayah ini kemudian menjadi asal kata Desa Semayang. "Jadi, mengenai asal kata semayang yang banyak diributkan orang berasal dari dua kata sei dan mayang, itu merupakan kekeliruan. Pasalnya Semayang tetap Semayang dan karena memang ada aliran sungai, maka desa ini menjadi Sei Semayang,"

Seingat Suwarno, pada periode terdahulu memang tak banyak ditemukan pohon pinang yang tumbuh di wilayah ini. "Kalau katanya Mayang adalah bunga pinang, ya keliru. Yang jelas, dahulu  orang tamil yang Hindu kerap melakukan upacara keagamaan di sungai Semayang yang mengalir tak jauh dari kuil Shri Mariamman," ujar dia.

Semayang

Mata lelaki itu pun menerawang. Dia mengingat suatu kejadian yang pernah memenjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Semayang.

"Pada awal 1990an, ketika air sungai Semayang masih jernih dan bersih, biasanya penduduk menggunakannya untuk mensucikan diri. Di depan, simpang jalan lintas Aceh-Medan, dulu ada tanah lapang. Biasanya penduduk menggunakannya sebagai tempat solat idul fitri dan idul adha. Sebelum mengikuti shalat, warga biasanya berwudhu di aliran sungai yang juga juga digunakan penduduk beragama Hindu untuk menggelar ritual keagamaannya," ujar Suwarno.

Namun seiring dengan pertumbuhan penduduk, air sungai Semayang yang dulu kerap digunakan untuk mensucikan diri itu kini sudah menjadi hitam.

"Limbah pabrik dan rumahan dibuang ke aliran itu. Sampah menimbun. Sungai Semayang tak bisa lagi dipakai untuk sembahyang," ujar dia dengan mata berkaca-kaca.

Semayang memang telah berubah. Sungai pun telah dialiri sampah. Namun, desa ini tetap menyimpan tradisi yang sejak lama disepakati bersama. Yakni, toleransi antar umat beragama. [hta]
 


Comments