www.jrsaragih.com


Selasa, 22 November 2016 , 12:03:00 WIB

Jutaan Umat Islam Indonesia Telah Bersatu Dalam Gerakan Masif, Tak Pernah Disangka

Laporan: Fajar Siddik

Umat Islam di Indonesia sangat berbeda dengan umat Islam yang berada di Timur Tengah atau di belahan negara manapun. Umat Islam di Indonesia itu memiliki beragam corak, baik dari sisi pemahaman maupun praktik.

Ada banyak yang menyebabkan hal tersebut, diantaranya adalah ajaran Islam dibawa oleh orang-orang yang  memiliki latar belakang berbeda. Pembawa ajaran Islam di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan pulau-pulau lainnya bukan orang yang memiliki pemahaman dan praktik yang mutlak sama.

Selain itu, Indonesia atau yang dulunya dikenal sebagai Nusantara memiliki budaya yang kaya nan kuat. Percampuran antara budaya di Nusantara dengan ajaran Islam yang dibawa dari luar menjadi penyebab lain atas bercorak atau beragamnya pemahaman maupun praktik keislaman di Indonesia.

Kondisi di atas menjadikan umat Islam di Indonesia memiliki kekuatan dan kelemahan sekaligus.

Salah satu kekuatan atas kondisi tersebut yaitu, ajaran Islam tidak dapat menjadi komoditas yang dikuasai oleh satu atau beberapa orang saja. Dengan hal tersebut maka "Agama adalah candu", sepenggal kalimat yang identik dengan Karl Marx, secara otomatis telah gugur. Sebab, sejak Islam masuk ke Indonesia hingga saat ini, Islam benar-benar tidak dapat menjadi candu atau tidak dapat menjadi komoditi yang dikuasai oleh siapapun.

Sedangkan untuk kelemahan, umat Islam Indonesia cenderung untuk sulit disatukan. Tidak ada satu orangpun, termasuk pemimpin tertinggi, Presiden Republik Indonesia, dapat menggiringnya ke dalam sebuah instruksi.

Kelemahan tersebut akan sangat terasa ketika ada sekelompok orang menista, mencela, menghina, menghujat, mendiskreditkan agama mayoritas di Indonesia ini.

Contoh terdekat tentu saja kegaduhan yang dibuat oleh Ahok. Ahok yang diduga didukung kekuatan besar di belakangnya akan melewati kasus dugaan penistaan agama Islam dengan mudah dan tersenyum gembira. Umat Islam yang mengaku sedang dinistakan agamanya teranalisis tidak akan mampu berbuat banyak untuk meloloskan kehendaknya, Ahok ditahan, didakwa dan dipidana.

Ditambah lagi, sejak era kolonialisme hingga pasca reformasi, umat Islam tidak pernah berkuasa dalam pemerintahan. Dalam setiap rezim, umat Islam hanya menjadi kekuatan-kekuatan pinggiran. Berdasarkan catatan-catatan sejarah yang ada, walau umat Islam memiliki jumlah mayoritas dan sumbangsih yang besar dalam memerdekakan Indonesia, umat Islam secara umum hanya menjadi kelas menengah baik secara politik maupun ekonomi.

Namun, secara mengejutkan, jutaan umat Islam dalam kurun waktu yang singkat tiba-tiba dapat bersatu dalam sebuah gerakan massif bertemakan "411, Bela Islam, Tangkap Ahok". Siapapun pihak yang menganggap remeh kekuatan umat Islam Indonesia, tidak akan pernah menduga fenomena ini.

Apa yang menyebabkan umat Islam di Indonesia, yang sebelumnya tidak diperhitungkan, dapat bersatu dan membentuk sebuah gerakan massif terbesar sepanjang sejarah Indonesia?

Jawabannya sederhana, umat Islam selalu berada di bawah tekanan dan mengalami kesakitan sosial yang begitu besar, terpendam dari era kolonial hingga pasca reformasi. Endapan kesakitan sosial ini bagai seorang ibu yang sedang hamil tua, siap melahirkan seorang bayi super yang dapat tumbuh menerjang apapun. Jangankan hanya menekan hukum di Indonesia untuk berlaku adil dalam kasus dugaan Ahok sebagai penista agama Islam. Segala korupsi dan ketidakadilan sosial, politik, ekonomi juga dapat diungkap dan diperbaiki.

Hanya saja, bayi yang sudah lahir dan mulai merangkak ini memiliki pilihan, menjadi anak yang tumbuh tangguh atau cacat. Jika gelombang energi gerakan massif jutaan umat Islam di Indonesia ini hanya diperuntukkan mengawal kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok saja, dapat dipastikan bayi tersebut akan tumbuh cacat. Maka akan kita nantikan, apakah bayi yang berpotensi menjadi kekuatan besar ini dapat tumbuh tangguh dan sempurna mengentaskan segala ketidakadilan di Bumi Pertiwi, Indonesia Raya.   

#NikmatnyaSeranganFajar




Comments