Kamis, 23 Februari 2017 , 16:26:00 WIB

JR Saragih Awali Program "Wisata Sejarah Simalungun" Dengan Ziarahi Makam Raja-Raja di Simalungun

Laporan: Robedo Gusti

Semangat baru untuk Sumatera Utara terus dikibarkan oleh Bupati Simalungun JR Saragih untuk menjadikan Kabupaten Simalungun bukan sebatas dikenal Indonesia saja melainkan dunia internasional. Kali ini pergerakannya adalah ingin menjadikan makam raja-raja sebagai destinasi wisata situs sejarah.

Sejak menjadi Bupati Simalungun di 2010, JR Saragih terus membentuk makam raja-raja di Kabupaten Simalungun untuk selalu diketahui bukan hanya masyarakat di Sumatera Utara saja melainkan hingga masyarakat dunia bisa tahu latar belakang kehadiran Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Di Kabupaten Simalungun memiliki tujuh makam raja, yakni pertama makam Raja Tn Rondahaim Saragih Garingging berada di Kecamatan Raya, kedua Makam Raja Pane Tn Bosar Sumalam Purba Dasuha yang berada di Kecamatan Panombeian Panei, selanjutnya makam Raja Purba Pakpak di Kecamatan Purba, keempat yakni makam Raja Girsang yang berada di Kecamatan Silimakuta, kelima makam Raja Purba Tambak yang berada di Kecamatan Dolok Silou, keenam makam Raja Sangnaualuh Damanik yang berada di Bengkalis, dan terakhir makam Raja Tanoh Jawa marga Sinaga yang ada di Kecamatan Tanah Jawa.

"Makam raja di Kabupaten Simalungun harus menjadi destinasi wisata situs sejarah, sehingga ikon sejarah dan budaya yang ada di Kabupaten Simalungun bisa dilestarikan sehingga wisatawan yang datang ke Sumatera Utara bukan hanya melihat Danau Toba saja tetapi di Simalungun ada banyak wisata sejarah yang menarik untuk dilihat," jelas Bupati Simalungun JR Saragih usai mengunjungi makam Raja di Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Kamis (23/2/2017).

Dalam memperindah makam raja di Kabupaten Simalungun, JR Saragih pun langsung menghibahkan dana sebesar Rp640 juta yang fungsinya untuk membuat makam raja di Kabupaten Simalungun khususnya makam raja di Tanah Jawa untuk menjadi lebih baik.

"Dana ini selain memperbagus makam serta wilayahnya, maka buatlah jalan, mulai dari jalan setapak dan jangan lupa berikan tulisan perihal sejarah lahirnya makam raja, otomatis dengan adanya histori maka kehidupan Raja bisa diketahui oleh masyarakat luas," paparnya lagi.

Salah satu makam Raja yang ada di Tanah Jawa ini misalnya, memiliki lima raja yang menjadi andil besar dalam menghidupkan Kabupaten Simalungun melalui Kecamatan Tanah Jawa. Lima raja tersebut yakni Panglima Sibongko, Puang Bolon Damanik, Opung Nabatua, Raja Naisimin Gintar serta Sang Majadi.

Di sini, kelima makam raja pun dimakamkan secara terpisah yakni Sang Majadi dan Panglima Sibongko dimakamkan di Kampung Melayu yang letaknya tak jauh dari Ihutan Bonor atau yang dikenal dengan Kampung Seberang. Di kampung tersebut, tiga raja lainnya yakni Opung Nabatua, Raja Naisimin Gintar serta Puang Bolon Damanik dimakamkan.

Sementara itu, Wakil Bupati Kabupaten Simalungun, Amran Sinaga turut menuturkan bila Sang Majadi dan Panglima Sibongko dimakamkan di Kampung Melayu karena dari mereka berdua lah yang menghidupkan istana di Tanah Jawa meski kini istana tersebut telah diubah menjadi Masjid.

"Di Tanah Jawa ini banyak situs sejarah yang bisa diangkat menjadi destinasi wisata. Termasuk masjid hingga rumah-rumah yang masih orisinil. Pembenahan inilah akan dilakukan hingga akhir 2017. Termasuk biografinya sehingga wisatawan yang datang bisa tahu asal usul kelahiran raja di Tanah Jawa," bebernya.

Hal serupa diutarakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Resman Saragih. Baginya, perjuangan dari raja-raja di Kabupaten Simalungun harus terus diingat dan dilestarikan. Bahkan, ini menjadi focus salah satu percepatan serta menjadi alat pendukung dalam menghidupkan pesona Danau Toba sebagaimana yang sudah ditetapkan Presiden Jokowi sebagai salah satu destinasi prioritas.

"Hasil perjuangan dari raja-raja di Kabupaten Simalungun harus terus diingat, sejarah keberhasilan mereka tidak boleh luntur. Melalui perjuangan raja-raja ini maka menjadi bagian yang penting dalam pertumbuhan budaya khususnya anak muda yang harus menghargai para leluhur," tutupnya.[rgu]



Comments