post image
KOMENTAR
DI Medan, hari ini Anda akan mudah menemukan warung kopi. Entah itu benar warung kopi atau tempat nongkrong berkonsepkan warung kopi.

Sejauh mata memandang, maka Anda akan menemukan beraneka macam warung kopi. Mulai dari yang paling tradisional, sampai warung kopi yang sudah bertransformasi, lengkap dengan musik live dan wi-fi. Mulai dari yang fenomenal sampai yang nyentrik bahkan yang tak terkenal.

Warung-warung kopi itu pun siap menerima Anda, meskipun Anda bukan peminum kopi, pecinta kopi, penikmat kopi, pemburu kopi, atau varian lain yang terkait dengan konsumen kopi.

Seperti saya ini. Malah ini tergolong aneh, sebab saya hobi duduk di warung kopi, namun tidak meminum kopi. Anda tak perlu bingung dengan itu. Sebab, warung kopi bisa dan terbiasa dengan keanehan yang datang dari pengunjungnya yang silih berganti.

Terkait dengan itu, maka ijinkanlah saya mengupas hal lain dalam tulisan saya kali ini. Tentus saja bukan tentang kopi, tentang filosofi rasa pahitnya atau aromanya yang membuat saya kadang ingin juga untuk mencicipinya.

Sebelum memulai berkisah, saya akan mengingatkan kepada Anda bahwa keberadaan warung kopi begitu penting. Sama pentingnya dengan aneka jenis kopi yang dijual disuguhkan di dalamnya.

Hmmmm... Saya sruput dulu teh susu saya.

Fenomena merebaknya warung kopi sebenarnya adalah konsekuensi logis dari ledakan penduduk. Hal yang paling masuk akal dikarenakan, membuka kedai kopi itu bisa menambah pundi-pundi. Jelas saja, pedagang kopi tak perlu kuatir dengan dagangannya. Sebab, ditengah pertumbuhan jumlah konsumen, pengunjung warung kopi tak akan sepi. Pedagang hanya perlu sedikit inspirasi untuk bisa mengkonsep sebuah warung kopi yang nyaman dan diminati pengunjung. Bisa jadi inspirasi itu datang dari kopi yang diseruputnya.

Hmmm... Saya sruput lagi teh susu saya.

Perbedaan warung Kopi dengan produk jasa berbasis aplikasi smartphone, tentu saja jelas kentara. Perbedaannya ada pada, upaya sosialisasi pengembangan usaha. Pemilik warung kopi tak perlu membuat iklan yang bisa mencuri kuota internet Anda hanya untuk menarik investor dan membuka peluang kemitraan. Betul-betul bersahaja.

Kesahajaan ini sudah berlangsung lama. Beratus-ratus tahun lalu agaknya. Sejak kisah monopoli informasi dimulai...

Seperti halnya lepau atau lapo, demikian pula terjadi pada kedai dan warung kopi. Konon dahulu tak sembarangan orang bisa masuk ke sini.

Di film-film Western, kita kerap melihat jagoan berpistol yang duduk-duduk di bar menanti undangan unjuk kebolehan. Para jagoan tampak duduk santai sambil menutup sebagian wajahnya dengan topi bundar yang biasa dipakai anak gembala (Baca: Cow-Boy).

Sementara matanya terpejam, namun telinganya dipasang untuk mencuri dengar. Tentu saja yang didengarnya informasi. Sebuah barang yang sejak dulu menjadi hal berharga yang hanya bisa didapatkan di tempat itu.

Di tempat kita ini, informasi demikian penting. Perbincangan warung kopi menjadi rujukan dan pegangan yang tak perlu diragukan lagi keakuratannya.

Pada masanya, tatkala kita belum mengenal "media", warung kopi adalah media yang menjadi tempat pertemuan berbagai macam kelompok kepentingan. Hal itu yang membuat warung kopi jadi tampak sakral, keramat dan semacamnya.

Konon, tak bisa sembarangan orang bisa masuk dan melebur di dalam kesakralan tempat itu. Hanya oknum-oknum tertentu yang bisa dapat duduk, memesan minuman, kemudian bersantai sambil bertukar informasi.

Ada tiga hal yang wajib dimiliki orang terdahulu bila ingin melebur di kesakralan warung kopi. Hal pertama adalah kemampuan bela diri. Kedua adalah kemampuan seni. dan ketiga dalah kemampuan beretorika. Ketiga seni ini dipadupadankan, sehingga menjadikan seseorang kelak kemudian hari, kita kenal sebagai para pendekar. Atau kalau di film western kita mengenalnya sebagai jagoan.

Para pendekar dan jagoan ini gentayangan di warung kopi. Mereka nongkrong dan bisa dengan mudah bertukar informasi. Informasi yang mereka kumpulkan kemudian mereka sublim kedalam bentuk kekayaan yang termaterikan. Dari informasi itu, mereka bisa menimbun aset, memperkokoh pengaruh, dan kalau datang musuh, kadang mereka harus berduel dan bertaruh. Yang kalah, akan mencari tempat nongkrong baru. Sedangkan yang menang, akan menjadi pusat informasi yang bisa dipegang.

Sisa-sisa tradisi "Pendekar Warung Kopi" masih sempat kita temukan. Diantaranya, masih adanya papan catur dan kartu yang disediakan pemilik warung. Serta gitar atau alat musik lainnya yang bisa dimainkan para pengunjung.

Alami Degradasi

Pada masa pembangunan, dimana pertumbuhan ekonomi bisa disaksikan lewat kampanye rancangan pembangunan lima tahun, warung kopi mengalami degradasi cukup parah.

Setelah sempat menjadi melting pot kelompok resisten kolonial, dan pemuda progresif revolusioner pada masa kemerdekaan, warung kopi dinyatakan sebagai lambang kemalasan dan tentu saja kontra produktif dengan jargon pembangunan. Bayangkan, pada masa pembangunan, warung kopi masuk dalam daftar Babinsa. Ternyata, di tempat itu, selain berkumpul para pemalas, berkumpul pula kecoa pembangunan yang berpotensi menghambat pembangunan Indonesia.

Untuk membersihkan warung kopi, maka citra "Wadah Pemalas" pun dipertegas.

Pada masa pembangunan, Warung Kopi dan saudara tuanya, Lapo Tuak masuk dalam pengawasan dan skenario kekuasaan.

Lapo Tuak malah lebih parah, tempat itu dinyatakan sebagai tempat berkumpulnya para preman.

Demikian terhempitnya warung kopi. Sehingga apapun kabar yang beredar dari dalamnya dikenal sebagai "Informasi Warung Kopi" yang berarti... ya kurang lebih, dimikianlah. Anda pun masih tak percaya pada informasi warung kopi.

Pada masa pembangunan, informasi yang boleh didapat hanya bisa datang dari satu pintu. Pintu itu tentu saja bukan pintu warung kopi. Pintu itu "Pintu Jargon Pembangunan" beserta MNC dan aneka ragam modus operandi kepentingan ekonominya.

Hmmmm.... sebentar, saya sruput lagi teh susu saya.

Maka kini, Anda tak perlu kaget dengan sekelomok anak muda yang pada masa itu mencoba mengembalikan kesakralan Warung Kopi. Ya, mereka adalah Warkop DKI. Sekelompok anak muda dengan program pembebasan yang berupaya keluar dari unipolar informasi. Tentu saja, mereka menggunakan komedi sebagai "software" protesnya.


Anomali Warung Kopi

Selepas masa "Penjajahan Repelita",  warung kopi muncul bak cendawan di musim hujan. Pertumbuhannya seakan ikut merayakan kejatuhan rejim represif yang menyumbat nadi informasi.

Dengan dibarengi dengan pertumbuhan teknologi dan sistem kendali ekonomi, warung kopi kembali membusungkan dada dan memproklamirkan diri sebagai wadah bertemunya orang-orang yang akan saling bertukar kabar.

Sayangnya, dari sekian banyaknya pengunjung warung kopi, sedikit yang memahami esensi warung kopi. Sebagian besar asik dengan filosofi kopi. Menjadi filsuf di warung kopi. Memanjakan diri dengan fasilitas dan kemudahan informasi.

Duel catur dan adu ketrampilan bergitar tak lagi menjadi portal masuk ke warung kopi. Sebab, warkop kekinian sudah menyediakan penyanyi sendiri. Anda pun tak perlu memiliki bela diri yang mumpuni. Sebab pajak Anda sudah cukup membayar jasa Security dan penjaga parkir. Dan bila beruntung, koneksi internet tempat Anda ngopi mampu membantu Anda menyelesaikan game online sampai pagi. Dan sendiri.

Tak ada rahasia dan keanehan lagi di warung kopi. Sebab pengunjung sudah biasa dan terbiasa dengan keanehan.

Hmmm... teh susu saya habis. Saya tak sruput teh susu lagi.

*Pengamat Papan Bunga dan Penikmat Teh Susu.



Instagram Ternyata Punya Dampak Buruk Bagi Kesehatan Mental

Sebelumnya

7 Destinasi Wisata Alam Paling Mengesankan di Bali

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Lifestyle