post image
KOMENTAR
Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli optimis dalam waktu dekat Danau Toba akan menjadi destinasi andalan Indonesia serta akan menyedot jutaan turis. Apalagi nantinya kawasan wisata Danau Toba akan didukung oleh infrastruktur yang memadai yang kini tengah dalam tahap pembangunan.

Penggagas Badan Otorita Danau Toba ini mengatakan, yang paling penting saat ini adalah menjaga agar Danau Toba agar tetap bersih oleh kotoran dari kerambah.

Selain keelokan pemandangan Danau Toba, Rizal juga bilang pemerintah akan "menjual" cerita legenda Danau Toba yakni sejarah terbentuknya Danau Toba 75.000 tahun yang lalu.

Adapun Danau Toba terbentuk akibat ledakan gunung yang sangat dahsyat mengalahkan Gunung Krakatau di Selat Sunda. Akibat ledakan Gunung di danau Toba, terjadilah perubahan iklim di bumi, daratan yang dulunya semua bergabung menjadi satu terpisah-pisah akibat es yang mencair karena pemanasan global.

Belum lagi cerita tentang transformasi Darwin, dimana hewan-hewan dahulunya berukuran raksasa seperti dinosarus, kini menyusut lantaran cuaca bumi yang semakin panas.

"Kalau cerita dongeng ini diketahui seluruh dunia maka orang akan berbondong-bondong ke Danau Toba, ingin melihat bukti sejarah itu," ujar Rizal dalam gelaran Malam Budaya Danau Toba di Jakarta, Rabu, (25/5).

Rizal juga ingin wisatawan melihat langsung budaya setempat yakni suku Batak yang sangat welcome dengan pendatang.

Menurutnya, suku Batak menjadi nilai jual tersendiri bagi wusatawan utamanya wisatawan mancanegara untuk melebur dengan suku Batak di Danau Toba. Rizal menyebut masyarakat Batak di Sumatera Utara tipe warga yang gembira, romantis dan sangat pandai bernyanyi.

"(selain dongeng Danau Toba) juga orang Batak adalah orang yang gembira sekali, romantis, pandai bernyanyi, saya percaya impian puluhan tahun ini akan jadi kenyataan," tandas Rizal.[rgu/rmol]

Kemenkeu Bentuk Dana Siaga Untuk Jaga Ketahanan Pangan

Sebelumnya

PTI Sumut Apresiasi Langkah Bulog Beli Gabah Petani

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekonomi