post image
KOMENTAR
ETNIS Tamil pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 mengenal sebuah sistem kelas sosial, dimana kelas yang lebih tinggi menjadi superordinat terhadap kelas yang dibawahnya. Jiwa revolusioner membuat D. Kumarasamy menjadi berbeda dengan kebanyakan orang. D. Kumarasamy adalah seorang etnis Tamil yang memiliki kasta dan kelas sosial tinggi dan terpandang, tapi itu tidak menjadikannya sebagai seorang pemuda penikmat zona nyaman. Jiwa revolusioner menuntun langkah kakinya untuk berjalan merangkul seluruh kasta pada etnis Tamil di Medan menuju sebuah kesatuan dan kesejahteraan.

Hingga pada tahun 1928, ia melihat sebuah potensi besar yang terkubur bersama jiwa tua dan kolot Deli Hindu Shaba. Deli Hindu Shaba yang didirikan pada tahun 1913 semula bergerak di bidang keagamaan dan bergerak mensejahterahkan bidang ekonomi, pendidikan, sosial dan kebudayaan.

Namun Deli Hindu Shaba ternyata tidak dapat memotivasi para pemuda  Tamil Hindu untuk turut aktif dalam setiap programnya, Deli Hindu Shaba didominasi oleh kaum tua. Kaum tua ini adalah kaum yang masih menganggap kegiatan keagamaan dan ibadah adalah sebuah rutinitas belaka, tidak menginternalisasikannya ke dalam kehidupan sosial Tamil Hindu.

Pengkastaan yang sudah ada dalam etnis Tamil Hindu bersinergi dengan orientasi beragama Deli Hindu Shaba yang hanya sekedar rutinitas tersebut. Layaknya perbedaan praktik beribadah antara etnis tamil Hindu kelas tinggi dengan kelas rendah, Deli Hindu Sabha juga bertransformasi menjadi organisasi yang menguatkan pengkastaan sosial.  Hal tersebut yang membuat D. Kumarasamy memutuskan untuk bergabung di Deli Hindu Shaba, tentunya dengan membawa jiwa revolusioner. [bersambung]    

KOMENTAR ANDA

Baca Juga