post image
KOMENTAR
Sebelumnya telah diuraikan pembahasan tentang Lapangan Merdeka di era pra kolonial yang didiskusikan di Rumah Musik Suarasama, Jalan Stella I Komplek Kejaksaan Medan oleh Forum Diskusi Sore, Rabu (29/6).

Dalam diskusi tersebut telah disimpulkan bahwa Lapangan Merdeka pada era pra kolonial menjadi tempat yang sakral dan memiliki tingkat spiritual tinggi.

Ketika masa kolonial masuk ke Sumatera Timur, perubahan drastis terjadi pada Lapangan Merdeka. Kawasan Lapangan Merdeka dijadikan oleh kaum Belanda sebagai tempat yang tidak senonoh.

Asmyta Surbakti, seorang akademisi sejarah-kebudayaan mengatakan bahwa kawasan lapangan merdeka dijadikan tempat maksiat.

"Pada masa kolonial, di depan dari griten itu ada namanya hotel granada, itu tempat maksiat," katanya saat menjadi fasilitator Forum Diskusi Sore, Rabu (29/6).

Sebagai contoh lain, bahkan terdapt klub khusus untuk orang-orang yang memiliki penyimpangan seksual.

"Terus ke belakangnya itu ada club white only, tempat nya orang gay eropa," ujar Asmyta.

Asmyta menunjukkan kekecewaan yang mendalam tentang mengapa saat masa kolonial, tempat yang begitu suci bisa diubah seketika oleh Belanda menjadi tempat

"Kenapa di tempat suci itu ada tempat maksiat.  Jadi orang Karo itu kalau memilih tempat untuk tinggal, membangun rumah, tidak sembarangan, ada tanah yang harus diperizinkan secara sakral sebelum dibangun," ucapnya.

Hal tersebut menjadikan berkurangnya spirit yang baik di kawasan Lapangan Merdeka  spirit yang baik.

"Pada akhirnya saat itu, Lapangan Merdeka juga sudah mulai berkurang spirit kutanya," demikian Amyta. [sfj]

FOSAD Nilai Sejumlah Buku Kurikulum Sastra Tak pantas Dibaca Siswa Sekolah

Sebelumnya

Cagar Budaya Berupa Bangunan Jadi Andalan Pariwisata Kota Medan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Budaya