post image
KOMENTAR
Pelaku usaha konveksi sweater dan baju kaos di Desa Cilengkrang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung belum mengetahui ada kenaikan tarif dasar listrik (TDL) per tanggal 1 Januari kemarin.

"Tarif listrik naik?" tanya salah satu pemilik konveksi, Roni Hendri (35) di Desa Cilengkrang, seperti diberitakan RMOLJabar.Com, Rabu (4/1).

Meski hanya beberapa persen, Hendri merasa kenaikan itu sangat memberatkan.

"Kalau memang benar naik, otomatis harga produksi usaha saya juga naik. Sangat berat bagi saya," keluhnya.

Kenaikan TDL ini dipastikannya berimbas pada semua komponen produksi.

"Mulai dari bahan baku, transportasi, biaya produksi yang langsung menggunakan listrik," terangnya.

"Otomatis upah pekerja juga minta naik karena kan mereka juga konsumen listrik," lanjutnya.

Dia pun menilai, kenaikan TDL juga akan berimbas melemahnya daya beli masyarakat terhadap pakaian jadi.

"Dan yang dirugikan tetaplah masyarakat seperti saya dan pengusaha konveksi lainya, bukan negara," tuturnya.

Pemilik konveksi lainya, Robi Haryadi (28) sudah terlebih dulu menaikkan biaya produksi usaha konveksi dan sablon miliknya di kampung Cigending sejak bulan lalu.

"Akhir tahun lalu (2016) biaya sudah saya naikkan sekitar dua persen. Jadi memang harga tarif mempengaruhi pendapatan jika dibandingkan sebelum dinaikan," tukasnya.

Untuk diketahui, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memberlakukan kenaikan tarif listrik secara bertahap bagi rumah tangga golongan mampu dengan daya 900 VA mulai 1 Januari 2017.[rgu/rmol]

Kemenkeu Bentuk Dana Siaga Untuk Jaga Ketahanan Pangan

Sebelumnya

PTI Sumut Apresiasi Langkah Bulog Beli Gabah Petani

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekonomi