post image
Net
KOMENTAR

Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan RI telah menetapkan ulos sebagai warisan budaya tak benda sejak 17 Oktober 2014. Warga Sumatera Utara secara khusus menyambut dan mengapresiasi hal tersebut, yang ditandai dengan pelaksanaan berbagai kegiatan dalam peringatan hari ulos setiap tahun.

Pelaksanaan hari ulos pertama tahun 2015, digagas oleh Enni Martalena Pasaribu,SH,MH bersama sejumlah pegiat dan pemerhati ulos serta budayawan Manguji Nababan dengan yang lainnya dilaksanakan di Jl Sei Galang Medan. “Setiap tahun kita mendorong adanya berbagai kegiatan dalam memeriahkan hari ulos. Sebagai bentuk respon dan apresiasi kita untuk penetapan ulos sebagai warisan budaya tak benda,” kata Enni saat ditemui wartawan di Medan, Rabu (16/10/2019).

Ulos, kata wanita yang sehari-hari aktif sebagai pengacara ini, adalah cipta karya suku Batak yang menjadi milik bangsa Indonesia. Pelestarian kekayaan seni dan budaya yang terkandung dalam ulos mestinya menjadi dampak dari penetapan oleh pemerintah tersebut.

Tidak menutup kemungkinan, ulos diajukan dan didaftarkan sebagai warisan budaya dunia melalui UNESCO, hanya saja terlebih penting untuk pembinaan dan kelestarian ulos di tengah masyarakat. “Pelestarian nilai ulos secara budaya dan seni, serta memberikan dampak secara ekonomi bagi pengrajin ulos,” ujar Enni.

Untuk itu, masyarakat Indonesia di seluruh provinsi khususnya warga Batak yang intim dengan ulos turut melestarikannya dengan aplikasi pemanfaatan ulos dalam keseharian.

“Selain dalam ritual adat, tentu motif dan corak ulos sangat elegan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kita ada kerinduan, pemanfaatan motif ulos dalam busana-busana atau pakaian sehari-hari bisa dilakukan dan menjadi fashion yang dipadu menjadi pakaian kebanggaan,” ujarnya.

Dikatakannya, pihaknya terus melakukan komunikasi ke pemerintah pusat lewat kementerian terkait untuk pemanfaatan status ulos sebagai warisan budaya tak benda untuk pelestarian dan perlindungan ulos dan berbagai kekayaan corak serta nilai historis yang terkandung di dalamnya.

Disampaikan Enni, pelaksanaan kegiatan bertemakan ulos setiap tahunnya di beberapa daerah terus bergulir. “Pengakuan pengrajin ulos, permintaan ulos relatif meningkat. Ini yang pantas kita syukuri,” ujarnya.

Kemudian, lanjut Enni, tahun-tahun sebelumnya selain seremonial peringatan hari ulos, juga telah dilakukan berbagai kegiatan seperti seminar dan sosialisasi ke tengah masyarakat. Untuk itu, ke depan ulos akan bisa semakin memasyarakat di Indonesia.

“Tanggungjawab kita, merespon penetapan oleh pemerintah, serta mendorong adanya upaya pelestarian dan pengembangan ulos dan nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Khususnya untuk nilai budaya dan seni kebudayaan itu sendiri,” ujarnya. [dar]

FOSAD Nilai Sejumlah Buku Kurikulum Sastra Tak pantas Dibaca Siswa Sekolah

Sebelumnya

Cagar Budaya Berupa Bangunan Jadi Andalan Pariwisata Kota Medan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya