post image
Net
KOMENTAR

Kehebohan dengan Komunitas crosshijaber dimedia sosial belakangan ini membuat warganet kaget. Komunitas yang merupakan sekumpulan pria yang berpenampilan menggunakan hijab, bahkan bergaya ala hijab syar’i lengkap dengan cadar. Jika istilah crossdressing telah ada sejak dahulu, di mana pria mengenakan gaun wanita dan tampil dengan makeup.

Kabar ini membuat Psikolog Klinis Fakultas Psikologi USU, Juliana Irmayanti M.Psi. angkat bicara.

“Kita harus tahu lebih dalam apa motif mereka melakukan itu, apa tujuannya, harus diteliti lebih lanjut. Karena kalau kita memberikan stigma, kemudian menjudge, itu hanya akan membuat mereka tidak akan juga melakukan. Atau mereka tidak mau diajak untuk berkomunikasi, karena mereka merasa tidak dipahami,” katanya.

Psikolog ini menjelaskan ada beberapa dugaan secara teoritik orang yang mengenakan pakaian yang secara normatif bukan pakaian dia itu. Ada rasa ketidakpuasan dengan identitas dirinya sendiri. Dan merasa lebih cocok dengan identitas orang lain, dalam hal ini berbeda dengan transgender, belum masuk keranah itu.

“Kemungkinan juga pernah trauma, mengalami pelecehan, sehingga dia tidak merasa nyaman dengan dirinya sendiri, kemudian melakukan Crossdress atau Crosshijaber ini sekarang”, Ungkapnya.

Crosshijaber bahkan memiliki komunitas di Facebook dan Instagram, dan bahkan ada tagarnya sendiri.

Juliana juga menjelaskan perihal mengapa komunitas tersebut berani tampil.
“Biasanya itu keinginan itu sudah muncul sejak lama, karena sering ditahan, kemudian dia menemukan orang-orang satu persatu, yang sama dengan dirinya, jika sendirian dia belum memberanikan diri untuk tampil. Maka bertemulah dengan orang yang sama maka lambat laun membentuk komunitas”, terangnya.

Pakar psikolog USU ini menerangkan. Rasa ingin tampil secara berpakaian yang tidak normatif ini memiliki beberapa penyebab dan bukan muncul secara tiba-tiba. Melainkan sudah sejak remaja keinginan itu muncul. Karena sejak remaja orang mulai menyadari hormon-hormon sudah mulai aktif, peran jenis kelamin sudah mulai dipisahkan. Dan diremaja hormon-hormon bergejolak, kenyamanan akan identitas diri itu muncul.

“Karena diremaja juga mulai mencari identitas kan, kalau tidak mendapatkan tuntunan yang benar. Artinya orang sekitar tidak mendeteksi nih, ada perubahan-perubahan, maka akan keterusan, ketika keinginanan terhadap sesuatu terlalu sering ditahan”, terangnya.

Butuh peran orangtua untuk mengedukasi, mencintai anaknya tanpa bersyarat. Jadilah orangtua seperti teman nya sendiri, supaya anak tidak canggung jika ingin bercerita perihal apapun. Agar lebih dekat,demikian Juliana irmayanti. [dar]

KBKC Binjai Menggelar Pelatihan Menulis Novel/ Cerita

Sebelumnya

WhatsApp Bakal Bisa Dipakai Di Banyak Perangkat Untuk Satu Akun?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Komunitas