"Secara pribadi saya belum memutuskan memilih siapa dari antara para calon. Namun hitung-hitungan yang saya buat menunjukkan pasangan Amri Tambunan - RE Nainggolan punya peluang memenangkan pemilihan nanti hanya dengan satu putaran," kata Jumongkas Hutagaol, salah seorang tokoh pergerakan di Sumatera Utara ini dalam siaran persnya kepada medanbagus.com, beberapa saat lalu.
Dalam hitungannya, ada empat sumber suara utama yang membuat pasangan Amri - RE menang, yaitu suara dari etnis tertentu yang menurut perkiraannya mencapai 7 - 10 persen. Lalu kontribusi atas nama Amri Tambunan 5 - 7 persen, mesin partai 10 - 12 persen, dan kontribusi atas nama RE Nainggolan mencapai 10 - 15 persen. "Sehingga kalau dijumlah, maka setidaknya menurut perkiraan saya, mereka akan mendulang setidaknya 32 persen dan berpeluang menang satu putaran," katanya.
Lalu Jumongkas pun merinci apa yang menjadi dasar perhitungannya, sehingga bisa menghasilkan angka-angka tersebut. Dimulai dengan figur masing-masing calon yang menurut dia punya popularitas dan elektabilitas lumayan. "Amri Tambunan diuntungkan, karena kebetulan dia saat ini memimpin kabupaten yang lokasinya sangat strategis sehingga bisa dikatakan sangat mempengaruhi perkembangan perekonomian di Sumatera Utara," katanya.
Menurut Jumongkas, warga Medan, khususnya yang mempunyai naluri bisnis, tentunya lebih kenal, dalam arti luas, kepada sosok Amri Tambunan dibanding kepala daerah tingkat dua lainnya di Sumut. "Medan dengan jumlah pemilih terbanyak, dikelilingi Deliserdang. Dari sudut kedekatan wilayah, tentunya warga Medan bisa jadi lebih familiar dengan nama Amri Tambunan. Inilah alasan saya membuat hitungan, pengaruh sosok Amri Tambunan akan mendulang setidaknya 5 persen suara," katanya.
Dia mengingatkan kepada seluruh calon agar dengan bijak melakukan sosialisasi atau kampanye, agar tidak terkesan hanya penghamburan. “Karena ada pepatah Batak yang mengatakan, ‘monang di surak-surak talu di olop-olop’, yang artinya belum tentu kemeriahan bisa menarik simpati. Lalu terkait ini saya juga ingin mengingatkan Pepatah Batak lain yang menyebut, ‘nilangka tu jolo, tinailihon tu pudi’, yang bermakna, setiap kita melangkah ke depan, baguslah memperhitungkan dampaknya di kemudian hari,” papar Jumongkas.
“Jangan pula habis pilkada, malah direpotkan dengan segala hitung-hitungan, hutang piutang, dan sebagainya. Karena di Sumut sudah ada contoh untuk hal-hal seperti ini,” imbuh Jumongkas. [ans]
KOMENTAR ANDA