post image
KOMENTAR
MBC.  Kualitas beras untuk rakyat miskin (raskin) yang didistribusikan Perum Bulog sepanjang 2012 masih buruk. Sebab, masih banyak ditemukan raskin yang kualitasnya tidak layak dikonsumsi. Terlalu...!

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron meminta Dirut Bulog Sutarto Alimoeso tidak mendistribusikan raskin yang kualitasnya buruk, sebagaimana yang terjadi tahun 2012. Dia juga berharap kekeliruan tahun lalu tak terulang kembali.

“Kami ingin raskin yang disalurkan ke masyarakat berkualitas baik. Pokoknya jangan ada lagi kualitas beras raskin yang buruk,” kata Herman kepada Rakyat Merdeka (grup medanbagus.com).

Anggota Fraksi Partai Demokrat itu mengimbau Bulog memeriksa teliti proses penyaluran raskin. Di samping tepat sasaran, pemeriksaan itu harus berulang kali di setiap titik distribusi sebelum disalurkan ke rumah tang­ga sasaran (RTS).

“Kami (Komisi IV DPR) mohon ada komitmen, tidak ada lagi pembagian raskin yang buruk. Kalau kelihatan buruk jangan dikirim,” tegas Herman.

Herman mengatakan, kalau perlu, Bulog memberikan sanksi bagi karyawannya yang mengabaikan kualitas raskin, sehingga pengadaan raskin bukan cuma meningkatkan kuantitas, tapi juga kualitas.

Berdasarkan data yang dirangkum Rakyat Merdeka, terdapat sejumlah kasus temuan raskin berkualitas buruk sepanjang 2012. Se­perti yang dialami masyarakat di Kabupaten Subang, daerah Suka­sari, November lalu. Kualitas beras raskin yang biasa mereka terima dan konsumsi layaknya untuk pakan bebek, bau dan hancur bahkan ada yang berkutu.

“Bau apek dan kaya pasir, berasnya remuk. Sudah kaya untuk makan bebek saja. Perbandingannya 70 persen menir dan 30 persen beras,” curhat seorang warga Sukasari, Udin Zaenudin.

Kasus serupa juga ditemukan di Desa Sangkanmanik, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, awal tahun ini. Masyarakat setempat mengeluhkan kualitas beras raskin yang diterima. Warga mengaku baru mengetahui kualitas raskin itu buruk setelah dimasak. Bakrudin (37), warga Kampung Sangkanmanik, Desa Cimarga, mengaku dirinya mendapatkan jatah raskin seminggu lalu melalui aparat desa setempat.

Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, realisasi penyaluran raskin sam­pai De­sember 2012 mencapai 3.335.376 ton.

Menanggapi temuan raskin yang di dalamnya banyak ditemukan kutu, Sutarto mengaku pihaknya akan bertanggung jawab. Namun, dia mengklaim kejadian beras berkutu itu kini sudah mulai berkurang.

“Ini bukan membela diri. Tapi di tahun 2012, keluhan soal raskin berkutu itu sudah lebih turun dibanding 2010,” kilahnya.

Menurut dia, memang kondisi gudang milik Bulog ideal untuk menampung stok beras masyarakat sebanyak 1 juta ton. Namun, karena pemerintah mendorong stok beras nasional harus minimal 2 juta ton, maka beras pun akan dipaksa masuk dalam gudang itu.

Sebagai negara tropis, dia berkilah wajar kondisi gudang tersebut cukup lembab. Akibatnya, kutu-kutu bisa hidup dalam beras tersebut, termasuk raskin.

“Apalagi stok beras itu akan dijaga minimal delapan bulan ke depan. Tidak mungkin dipungkiri masih ada kutu di beras masyarakat,” tambahnya.

Kendati demikian, Bulog akan terus meningkatkan investasi dalam pemeliharaan gudang miliknya. Hal itu untuk mengantisipasi dan mengurangi kutu ataupun kualitas beras di gudang. Bulog meminta ketua tim raskin (pemerintah daerah) mengecek beras itusebelum keluar dari gudang. Hal itu untuk mengantisipasi kondisi beras sebelum diterima masyarakat.
[Harian Rakyat Merdeka/rmol/ans]

Kemenkeu Bentuk Dana Siaga Untuk Jaga Ketahanan Pangan

Sebelumnya

PTI Sumut Apresiasi Langkah Bulog Beli Gabah Petani

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekonomi