post image
KOMENTAR
Oleh : Maria Timmen Surbakti*

Perubahan iklim bukanlah isu sederhana. Pengaruhnya yang akan berdampak terhadap generasi mendatang sangat berbahaya. Perubahan iklim tidak saja berpengaruh pada iklim lokal tapi juga ancaman bagi dunia yang menyebabkan global warming. Suatu daerah seringkali mengalami pemanasan eksrim, sedangkan daerah lain mengalami pendinginan yang tak wajar. Fenomena ini tidak seharusnya terjadi. Terbukti dengan curah hujan tidak menentu, ekstrimnya cuaca yang berubah-ubah, arah angin yang berubah, dan fenomena lainnya yang berakibat pada bencana serta berdampak buruk bagi kehidupan.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan, selama abad 20 Indonesia mengalami peningkatan suhu rata-rata udara di permukaan tanah 0,5 derajat celcius. Dibandingkan tahun 1961 hingga 1990, rata-rata suhu di Indonesia diproyeksi meningkat 0,8 sampai 1,0 derajat celcius antara tahun 2020 hingga 2050. Sangat jelas perubahan suhu yang meningkat hingga dua kali lipat.

Tentu saja dampak yang muncul sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup terutama generasi selanjutnya seperi terancamnya ketahanan pangan, emisi gas buang yang meningkat, turunnya intensitas curah hujan di beberapa lokasi, dan cuaca ekstrem.

Di Jakarta misalnya, banjir besar terjadi pada awal tahun 2013. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, 15.423 jiwa mengungsi. Daerah yang terendam meliputi 720 RT, 309 RW, 73 Kelurahan, dan 31 Kecamatan. Kerugian ditaksir mencapai Rp. 20 trilyun sebagaimana dinyatakan oleh Gubernur DKI Jokowi. Hal ini jelas ancaman bagi infrastruktur kota terutama transportasi umum dan menghentikan produktifitas masyarakat Jakarta.

Permukaan air laut naik disebabkan gunung-gunung es mencair akibat pemanasan global. Sumber air terkontaminasi dengan air laut. Air yang sudah berkurang karena penyedotan dan mengakibatkan penurunan tanah setiap tahun, akan semakin langka. Pengaruhnya terhadap kesehatan terutama penyakit pernapasan karena ekstremnya cuaca yang menyebabkan rentan terhadap penyakit. Tidak menutup kemungkinan perkembangan virus dan imunitasnya bermutasi. Semua sisi negatif itu tentu saja sudah mulai terasa dampaknya sehingga membuat dunia mulai membuat kebijakan dalam menanganinya.

Melihat perkembangan yang ada, perubahan iklim tidak serta merta kehancuran dan menuju akhir dari dunia. Penyelesaian  dan mitigasi telah banyak dibahas dan dikembangkan. Salah satu  cara terbaik bagi mitigasi perubahan iklim adalah dengan mengubah produksi dan pola konsumsi yang masih mendominasi sistem yang berlaku di dunia ini. Perubahan gaya hidup individu atau kolektif dan perubahan jalur pembangunan secara struktural menuju ke arah pembangunan yang berkelanjutan dan rendah karbon. Pola pertanian adalah dampak utama dari perubahan iklim. Antisipasi dalam bidang pertanian harus mulai diselaraskan dengan kerugian yang mengikutinya. Misalkan saja mengganti komoditi tanaman karena perubahan suhu panas, keadaan topografi, dan sebagainya.

Konversi lahan teh menjadi lahan sawit merupakan suatu keuntungan. Misalkan saja lahan teh yang produktifitasnya menurun juga karena suhu yang berubah. Lahan teh merupakan lahan yang cocok sebagai target konversi menjadi lahan sawit. Contohnya di kebun the Bah Birong Ulu, kebun Marjandi, Bah Butong, Sidamanik, Tobasari, dan Sibosur Kabupaten Simalungun didasarkan data klimatologi, telah dikonversi dengan ketinggian di atas 700 meter di atas permukaan laut menunjukkan perubahan iklim juga menyebabkan sawit mampu hidup di dataran tinggi.

Minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan biji sawit merupakan bahan yang banyak dicari karena multifungsi  mulai dari bahan dasar hingga bahan baku produksi. Dari beberapa tanaman penghasil minyak dan lemak, kelapa sawit merupakan tanaman dengan produktifitas minyak tertinggi. Tanaman kelapa hanya menghasilkan sepertiga (700-1000 kg/bulan daging buah kelapa/ha) dibanding produksi kelapa sawit (2000/3000 kg/bulan TBS/ha).

 Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetik, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit memiliki keunggulan tahan oksidasi. Dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan lain, juga dipakai sebagai bahan kosmetik.

Di Daerah Sumatera Utara tanaman sawti menjadi primadona. Lahan perkebunan sawit saat ini sedang meluas dan menjadi salah satu perkembangan komoditi yang sedang diincar baik petani dan pengusaha. Tanaman sawit biasanya ditanam pada ketinggian 400-600 meter di atas permukaan laut. Namun, sekarang sudah bisa ditanam pada ketinggian diatas 700 meter di atas permukaan laut. Hal ini tentu saja tak lepas dari pengaruh perubahan iklim yang dulunya suhu dingin berubah menjadi panas.

Tanah karo yang dulunya dingin 17 derajat celcius dengan perubahan iklim akan mengalami peningkatan suhu. Artinya kemungkinan konversi lahan juga akan terjadi. Tanah Karo memiliki ketinggian 140 meter hingga 1400 meter di atas permukaan laut. perbandingan luas pada ketinggian 140-200 meter seluas 9.550 ha, 200-500 meter seluas 11.373 ha, 500-1000 meter seluas 79.215 ha, dan 1000-1400 meter seluas 112.587 ha. Perbandingan lahan dengan ketinggian diatas 600 hingga 1000 meter diatas permukaan laut mencapai lebih dari setengahnya.

Dinas Pertanian dan Perkebunan Karo diharapkan dapat mensosialisasikan tanaman sawit ini sebagai tanaman alternatif. Hal ini merupakan potensi yang baik dilakukan sebab tanaman sawit produksinya kelak dapat meningkatkan ekonomi masyarakat, produksi sawit dari Karo juga diharapkan dapat memenuhi kekurangan kebutuhan CPO di Sumatera Utara.

Hanya saja sebaiknya pengelolaannya tidak dikuasai secara korporasi demi kemandirian dan kesejahteraan masyarakat lokal.  Sistem koperasi sebaiknya diterapkan, membenahi managemen penataan lahan konversi agar tetap seimbang dengan hortikultura, serta irigasi dan penampungan air ditata lebih baik.

*Penulis adalah aktivis lingkungan Food & Water Care

Kemenkeu Bentuk Dana Siaga Untuk Jaga Ketahanan Pangan

Sebelumnya

PTI Sumut Apresiasi Langkah Bulog Beli Gabah Petani

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekonomi