post image
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

 Harga minyak mentah jenis WTI saat ini bertahan dikisaran harga $77 per barel, sementara jenis Brent alami kenaikan dan bertahan di kisaran harga $84 per barel. Sejauh ini kenaikan harga minyak mentah dunia akan memicu terjadinya kenaikan inflasi secara global. Perang disatu sisi memicu akumulasi instrument save haven seperti emas, namun disisi lain bisa mendorong ekspektasi kenaikan bunga acuan yang bisa memicu akumulasi pada mata uang khususnya US Dolar.

Demikian disampaikan pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin dalam keterangan tertulis, Rabu, 4 Maret 2026.

Untuk itu, ia menyampaikan bebera hal yang perlu harus menjadi perhatian investor. Pertama, amati terus perang yang berlangsung saat ini dengan melihat eskalasinya serta potensi durasi yang terjadi. Karena durasi dan eskalasi akan memiliki korelasi terhadap pembentukan harga minyak mentah dunia. 


“Semakin lama perang berlangsung, atau justru perang semakin meluas maka potensi harga minyak bertahan mahal dan cenderung naik semakin terbuka,” ujarnya.

Kedua, kebijakan Bank Sentral di setiap negara akan mengacu kepada besaran inflasi yang harus ditanggung setiap negara dari beban kenaikan harga komoditas minyak. Masalah mendasarnya adalah kebijakan akan cenderung bernada hawkish dibandingkan dengan saat sebelum perang itu berkecamuk. Disini berarti ada kemungkinan bahwa suku bunga acuan berpeluang untuk dinaikkan, dan sangat potensial menggeser minat investor dari emas ke instrumen yang berpeluang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan emas, disini US Dolar yang akan menjadi target investor selanjutnya dan selalu mendorong penguatan US Dolar.

Dengan skenario seperti itu, berinvestasi emas dengan cara memperjual belikan kontraknya akan menciptakan peluang bagi investor yang melakukan transaksi dua arah. Namun bagi investor yang membeli emas secara fisik, skenario tersebut relatif tidak begitu mempengaruhi perubahan harga emas terlebih jika perang masih terus berlangsung.

Ketiga, analis akan menghitung berapa besar kenaikan harga minyak mentah dunia dan berapa lama harga minyak mentah dunia tersebut bertahan di level tertentu. Dikorelasikan bukan hanya pada laju tekanan inflasi saja, namun juga akan mempertimbangkan kinerja mata uang negaranya masing-masing. Konteks ketiga ini akan lebih menggambarkan pembentukan harga emas di tanah air.

“Karena impact dari dinamika harga emas dunia yang cenderung naik atau sebaliknya, namun turut serta dipengaruhi oleh dinamika sebaliknya dari mata uang US Dolar. Maka disaat emas harganya naik, maka punya kecenderungan untuk memicu pelemahan mata uang rupiah. Dan disisi lainnya jika Rupiah menguat terhadap US Dolar, bisa jadi harga emas cenderung naik,” sebutnya.

Pun begitu kata Gunawan Benjamin, selama perang berlangsung maka harga emas memiliki fundamental yang kuat dan tetap berpeluang untuk lanjutkan kenaikan harga.[JP]

AS Dan China Akan Memulai Negosiasi Tarif, IHSG Ditutup Menguat Tipis

Sebelumnya

Kemenkeu Bentuk Dana Siaga Untuk Jaga Ketahanan Pangan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Ekonomi