post image
KOMENTAR
Bakal calon walikota Medan, Camellia Panduwinata Lubis mengatakan keberadaan becak dayung di Kota Medan akan tergerus oleh persaingan transportasi jika tidak ditata dengan baik. Padahal sebagian warga kota Medan menurutnya menggantungkan hidup dari hasil menarik becak tersebut. Demikian disampaikannya saat bersilaturahmi dengan kalangan abang becak di kawasan Jalan Sisingamangaraja, Medan, Kamis (21/5/2015).

Salah satu upaya yang bisa dilakukan agar keberadaan penarik becak tetap bisa bertahan ditengah persaingan moda transportasi kota saat ini menurutnya harus dengan konsep penataan dari pemerintah. Hal ini dilakukan dengan mengintegrasikan transportasi tradisional ini dengan kawasan-kasawan yang spesifik di Kota Medan seperti kawasan wisata baik wisata heritage maupun wisata kuliner dan lainnya.

"Para penarik becak dayung bisa diintegrasikan dengan pembentukan kawasan wisata heritage. Mereka (becak dayung) jadi transportasi khusus pada kawasan itu, sementara angkutan lainnya tidak diperbolehkan masuk dikawasan tersebut. Di Medan mungkin bisa dibuat mulai dari Masjid Raya, Istana Maimun hingga Kawasan Kesawan sebagai salah satu titik wisata heritage," katanya.

Kader PKPI ini menyebutkan penetapan lokasi-lokasi wisata khusus seperti itu sudah diterapkan di Yogyakarta, dimana beberapa kawasan wisata hanya memiliki transportasi becak dayung. Kondisi ini menurutnya efektif untuk mempertahankan agar keberadaan para penarik becak tetap bisa terjamin.

"Artinya mereka tidak kehilangan pekerjaan, bahkan mungkin pendapatan mereka bisa tetap stabil karena tidak perlu bersaing dengan moda transportasi lainnya," ungkapnya.

Mantan atlit Taekwono Medan ini menyebutkan, sudah saatnya Medan memiliki konsep-konsep yang spesifik seperti kawasan wisata heritage, kawasan wisata kuliner, kawasan wisata sejarah dan sebagainya. Hal ini karena potensi Medan menurutnya sangat besar dalam bidang-bidang kepariwisataan tersebut.

"Kalau itu terwujud, saya yakin Medan jadi salah satu destinasi favorit untuk berwisata di Indonesia," ujarnya.

Sebelumnya salah seorang abang becak dayung, Sutrisno (55) Warga Jalan Multatulli, mengeluhkan sulitnya mencari penumpang belakangan ini. Ia mengaku kesulitan tersebut karena mereka "dipaksa" untuk bersaing dengan berbagai moda transportasi lainnya di Kota Medan. Ia menyebutkan, perhatian dari pemerintah sangat mereka butuhkan agar mata pencaharian mereka dengan menarik becak tetap bisa menjadi andalan untuk menghidupi keluarga.

"Kalau kami ditanya dibuatlah rute-rute yang jelas. Kalau memang kawasan becak, ya becak aja yang boleh narik sewa (penumpang) disitu. Jadi nggak tumpang tindih antara kami dengan angkot," ujarnya.[rgu]

KOMENTAR ANDA