post image
KOMENTAR
Keberanian Sonya Depari membentak seorang polisi sambil mencatut nama seorang perwira tinggi tak bisa dilepas dari tradisi di dunia pendidikan dan juga lemahnya marwah dan wibawa kepolisian.

Hal itu disampaikan pengamat sosial Shohibul Anshor kepada MedanBagus.Com, Kamis (7/4).

"Mana mungkin orang, terutama pelajar, berbuat seperti itu kalau bukan karena alasan bahwa lembaga kepolisian bisa dimain-miankan? Fakta itu yang menjadi dasar bagi keberanian anak sekolah itu. Karena itu, perbaikilah, jangan karena punya hak memenjarakan anak-anak itu lalu menjaga wibawa dengan cara yg kurang kena dengan akar masalah," kata Shohibul Ansor.

Selain itu, Sohibul juga menilai bahwa apa yang telah dilakukan Sonya Depari bukan sebuah hal yang besar dan pertama kali dilakukan. Para siswa yang melakukan konvoi pasti memandang polisi yang ditemuinya di jalan bukanlah lembaga yang sangat suci.

"Bukan tidak bisa dikerahkan polisi dengan laras panjang di setiap sekolah untuk membatasi aksi nakal corat-coret itu. Namun apa artinya semua itu, dan jika pun ada orang yang mengaku anak jenderal lalu membentak petugas kepolisian di lapangan saat mereka dihalangi konvoi, itu tak perlu dianggap serius. Anak-anak muda itu juga faham bahwa kepolisian yang mereka temukan wakilnya di lapangan, bukanlah lembaga yang sangat suci," ucapnya

Para pelaku pendidikan yang tidak pernah menanggapi secara baik untuk menghadapi aksi corat-coret anak sekolah juga menjadi penyebab munculnya kasus Sonya Depari dan kasus-kasus penyimpangan lain.

"Pendidikan tak pernah berencana secara baik menghadapi aksi konvoi disertai corat-coret baju seragam pasca ujian. Tetapi jangan lupa, ini bukan saat yang tepat memberi seruan seperti itu kepada anak-anak muda yang kurang faham merayakan kegembiraan melewati sebuah tahapan penting dalam sejarah kependidikan mereka. Mereka ada pada sebuah “penjara tradisi”. Ada kenikmatan berbuat salah, karena di sana terdongkrak bukan hanya harga diri, tetapi juga kesenangan membanggakan sesuatu. Terlepas nilai dan norma umum menganggapnya salah," ungkapnya

Shohibul memberikan sebuah saran untuk pelaku dunia pendidikan agar para siswa dapat menunjukkan sebuah tradisi yang baik dalam mengungkapkan euforia dan kebanggannya.

"Pendidikan jangan panik. Mulailah dari perubahan tradisi di lingkungan dunia pendidikan secara umum. Pendidikan yang tak mengeliminasi praktik-praktik ketidakjujuran, antara lain misalnya dengan banyaknya kutipan, moralitas kurang terpuji dari banyak tenaga kependidikan, dan bahkan tak sedikitnya pejabat pendidikan struktural yang masuk penjara, dan lain-lain, adalah intervening variable yang signifikan. Kita rubah itu dulu, baru menuntut banyak kepada anak-anak muda itu" demikian Shohibul. [hta]

Komunitas More Parenting Bekerja Sama Dengan Yayasan Pendidikan Dhinukum Zoltan Gelar Seminar Parenting

Sebelumnya

Sahabat Rakyat: Semangat Hijrah Kebersamaan Menggapai Keberhasilan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Komunitas