post image
KOMENTAR
Saat ini pemanasan global telah memicu terjadinya perubahan iklim di seluruh dunia.

Dampak yang terjadi di masing-masing negara berbeda. Vietnam misalnya. Di kawasan utara Vietnam, tepatnya kota Sa Po di Provinsi Cai sempat geger akibat turun hujan salju. Salah satu upaya mengantisipasi perubahan iklim, pemerintah Vietnam menggalakkan eco tourism.  

Direktur Taman Nasional Xuan Thuy, Nguyen Viet Cach menjelaskan, konsep ini untuk mengurangi dampak perubahan iklim di Provinsi Nam Dinh, Vietnam.

"Tujuannya sederhana yakni untuk meningkatkan kepedulian masyarakat tentang arti perubahan iklim itu apa. Salju yang turun di kawasan utara Vietnam sangat mengerikan bagi masyarakat. Tapi mereka tidak tahu bagaimana proses perubahan iklim terjadi," ujarnya dalam acara Media Training Worshop On Climate Change di Hanoi, Vietnam, Sabtu (1/10) lalu.

Dalam kesempatan yang dihadiri oleh perwakilan jurnalis dari seluruh negara ASEAN itu, dipaparkan bahwa konsep eco tourism yang dijalankan oleh pemerintah Vietnam dengan mengajak masyarakatnya mengelola pariwisata di Taman Nasional Xuan Thuy.

Masyarakat diberi pendidikan dan pengetahuan tentang bagaimana cara menjadi tuan rumah bagi wisatawan yang hendak menikmati liburan di wilayah ini.

"Kami membentuk community tourism untuk membangun rumah layak huni agar rumah warga dapat sekaligus juga dipakai sebagai rumah tinggal bagi turis," jelasnya.

Meski berada di kawasan pantai, lanjut Nguyen, konsep eco tourism tidak sebatas ditujukan pada masyarakat setempat yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Pemerintah Vietnam juga secara khusus membentuk komunitas warga yang beragam dari kalangan petani, guru, ibu rumah tangga dan lain sebagainya.

Setiap anggota masyarakat akan dibekali kemampuan tentang bagaimana cara menjamu tamu asing dan sekaligus menjadi pemandu wisata. Masyarakat diajari bagaimana cara menyajikan makanan yang layak kepada turis, termasuk pengetahuan tentang pagelaran atraksi budaya, membuat souvenir menarik serta mengajak wisatawan turun langsung mempelajari dampak perubahan iklim yang melanda kawasan tersebut. Bahkan mereka mampu menciptakan merk khusus untuk produk hasil olahan masyarakat yang akhirnya mendunia.

"Artinya ini akan menjadi lahan mata pencaharian baru bagi masyarakat karena efek perubahan iklim ini sangat terasa di Vietnam. Kita tidak sebatas mengajari mereka mendapatkan penghasilan tapi juga mengedukasi mereka tentang perubahan iklim dan nantinya mereka akan mengajari wisatawan tentang bagaimana efek perubahan iklim dunia terhadap wilayah tinggal mereka. Dan ini sangat efektif," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, tahun 1989, Taman Nasional Xuan Thuy menjadi situs lahan basah atau situs Ramsar pertama di Asia dan dunia dan menjadi area yang sangat penting sebagai habitat burung migran. Kemudian pada tahun 2003, lokasi ini ditetapkan jadi taman nasional.

Kawasan yang berada 150 kilometer dari Kota Hanoi, Vietnam ini juga menjadi habitat lebih dari 220 spesies burung, 107 jenis ikan, tempat hidup untuk 500 ragam tumbuhan dan hewan laut dan puluhan spesies reptil, amfibi dan serangga serta 120 tumbuhan vascular dengan luas hutan mangrove di atas lahan 3 ribu hektar.

Sayangnya perubahan iklim dan pencemaran air telah merusak kawasan ini. [hta]

KOMENTAR ANDA