post image
Imran Syukri Tarigan (bertopi) membawa pengunjung ikut memanen kopi Cimbang/Istimewa
KOMENTAR

Ancaman erupsi Gunung Sinabung tak menyurutkan semangat petani kopi di Desa Cimbang, Kabupaten Karo.

Setelah ladang dan perkebunan jeruk  rusak oleh semburan debu dan serangan lalat buah, kini masyarakat di seputaran lingkaran Gunung Sinabung mulai mengembangkan pertanian untuk komoditas kopi.

"Di tahun 2019, tercatat sudah 18.000 hektar lahan yang sudah ditanami kopi di seluruh Kabupaten Karo. Dan itu sudah termasuk milik Kelompok Petani Kopi Cimbang Sinabung seluas 15,5 hektare," ujar Imam Syukri Syah Tarigan, penggerak pertanian kopi Cimbang kepada Kantor Berita RMOLSumut akhir pekan lalu.

Hasil tanaman yang merupakan jenis kopi dari turunan varietas arabica seperti bourbon p88, natural, typica dan gesha ini pun diminati oleh pasar.

Hal itu membuat hati petani kopi di Desa Ujung Payung, Kecamatan Payung terobati manakala musim erupsi tak kunjung reda di Desa yang berjarak sekitar 8 kilometer dari Gunung Sinabung.

"Kebahagiaan semakin lengkap setelah kopi Cimbang menjadi salah satu kopi terbaik versi AVPA di Paris pada bulan Oktober 2018 lalu. Itu monumen kebangkitan kopi Karo yang tentu akan diikuti permintaan minat pasar," terang Imam Syukri.

Berkah Sinabung

Desa Cimbang adalah salah satu dari 17 desa terdampak erupsi Sinabung sejak 2010 hingga kini.

Berada di radius 8 kilometer dari Sinabung dan sekitar 16 kilometer dari ibukota kabupaten, Desa Cimbang yang terpencil dianugerahi tanah yang subur dan cocok untuk pengembangan kopi di ketinggian 1200-1500 Mdpl. Selain itu, meski terus diselimuti semburan debu vulkanik, Desa Cimbang tetap memiliki udara yang sejuk serta panorama pemandangan indah.

Pada tahun 2013, Pemerintah Kabupaten Karo beserta sejumlah instansi seperti BNPB, FAO, ILO dan New Zealand aktif membina dan melatih warga petani di desa itu.

Mengembalikan tradisi yang sudah dimulai sejak tahun 1960an, warga Desa Cimbang kemudian menjadikan kopi arabica yang populer disebtu sebagai "kopi dekkah" sebagai salah satu prioritas tanaman untuk mencukupi kebutuhan ekonomi warga.

"Kopi Cimbang Sinabung yang kaya dengan rasa buah jeruknya juga dengang multi varian membuat kopi Cimbang sinabung di gemari oleh banyak kalangan. Selain rasa, kopi Cimbang Sinabung juga memiliki filosofi bahwa masyarakat yang terdampak bencana Sinabung masih semangat dengan keadaan meraka sekarang. Namun mereka tetap percaya, di balik bencana ada rencana Tuhan yang lebih baik," kata Imran Tarigan, penggerak usaha kopi Cimbang Sinabung.

Selain itu, lanjut Imran, racikan kopi terasa istimewa. Dimana debu vulkanik Gunung Sinabung ikut memperkaya rasa kopi di Desa Cimbang.

"Debu volcanik Sinabung menaburi tanah ladang kami hingga bisa menjadi subur dan bisa dapat merawat kopi Cimbang yang berkualitas. Kami percaya kopi adalah salah satu anugrah Tuhan bagi kami yg bisa dapat merubah kehidupan kami," demikian Imran. [rtw]

Kopi Broo, Tempat Nongkrong Instagramable

Sebelumnya

Minuman Tradisional dan Kopi Indonesia Diminati di Belanda

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga