post image
KOMENTAR

Setelah eyang tiada, wall pertemanan facebook saya dipenuhi beragam cerita interaksi masing-masing mereka dengan eyang. Membuat saya sadar, betapa seorang BJ Habibie telah menyentuh banyak orang dan menginspirasi banyak orang. Setiap cerita memiliki makna spesial untuk tiap mereka yang telah berinteraksi dengan eyang.

Beberapa hari ini saya melihat ke belakang, selama 7 tahun terakhir, saya berkesempatan berinteraksi, berdialog, mendengar dan belajar dari Eyang. Lalu apa yang ingin saya tulis? Kemarin Jum'at di kantor, seseorang bertanya

"Apa yang dirasakan setelah eyang tidak ada lagi?"

Saya menjawab " saya masih tidak percaya eyang sudah pergi".

Masih teringat jelas di kepala saya, momen dimana saya dan Istri, berangkat ke Schipol di tengah dinginnya musim dingin, melewati pintu kecil menuju lounge VIP di Schipol, Amsterdam untuk menjemput eyang dari Indonesia. Masih teringat bunga anggrek putih besar ucapan selamat atas kelahiran Amalia. Masih teringat jelas telpon tiba-tiba eyang yang menjelaskan proyek pembangunan toilet dan sanitasi di Jawa Tengah yang tidak banyak orang tau. Masih terbayang jelas, ketawa lepasnya di Zugspitze yang melihat saya ngos-ngosan mendaki gunung yang tinggi. Masih terbayang jelas, mata eyang yang berbinar-binar bicara tentang Pancasila dan maknanya buat bangsa.

Buat saya hal-hal kecil semacam itu yang saya rindukan dari beliau. Seperti duduk disampingnya berkeliling Muenchen untuk mencari kembang api untuk tahun baru. Buat saya, hal seperti itu yang akan saya ingat di sepanjang hidup saya. Belajar dari salah satu putra terbaik bangsa.

Kami begitu larut dalam diskusi tentang bangsa. Saya lebih banyak tertegun mendengar. Cerita beliau waktu muda, bagaimana beliau membangun karirnya , bagaimana dia berfikir keras memajukan bangsa dan kalimat-kalimat bijaknya yang begitu menghujam.

Buat saya beliau tidak ingin ada Habibie lain, beliau ingin para penerusnya menjadi dirinya sendiri, dan para penerusnya harus lebih baik dari Habibie. Sebuah hal yang teramat sulit, karena standar yang eyang pasang terlalu tinggi untuk dilampaui. Saya masih ingat di pertemuan pertama kami, eyang menunjuk saya dan Ipon dan bilang.

"Jangan underestimate diri kalian sendiri, kalian harus lebih baik dari saya".

Kalimat yang simpel namun sangat sulit menjadi lebih baik dari Habibie. Etos kerja beliau teramat dahsyat, beliau begitu mencintai pekerjaannya, baktinya pada bangsa, kemampuan sosial beliau menyentuh setiap orang, dan bagaimana eyang bisa menggerakkan orang. Buat saya terlampau sulit disamai.

Eyang adalah manusia langka, putra terbaik bangsa. Yang bisa kita lakukan belajar dari pemikiran beliau, mencontoh etos kerjanya dan berdoa suatu hari nanti kita bisa mengikuti jejak langkah beliau.

Saya masih ingat salah satu pesan beliau

"Bekerja jangan setengah-setengah, harus sepenuh hati, up and down itu biasa itulah perjuangan".

Diambil dari Catatan Perjalanan Angin 14 September 2019

Oleh: Achmad Adhitya

Sustainable Sourcing Manager Unilever

Mungkinkah Industri Sawit Indonesia Sebagai Salah Satu Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Tengah Isu Global Negatif Minyak Sawit ?

Sebelumnya

Program Pemberdayaan dan Pembinaan Perusahaan Kelapa Sawit terhadap Para Petani Sawit Sebagai Salah Satu Solusi Permasalahan Petani Sawit Rakyat, MUNGKIN KAH ?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Opini