post image
KOMENTAR
Michael E. Boyd, pilot Cessna 208 yang dipaksa mendarat oleh dua pesawat Sukhoi, hingga kemarin masih tertahan di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kal­tim). Pria kelahiran Kansas, Amerika Serikat (AS), 21 Januari 1959 itu harus menjalani masa karantina yang diberlakukan TNI-AU Lanud Balikpapan.

Masa karantina berlaku setidaknya 2 x 24 jam hingga pemeriksaan selesai. Selama di Balikpapan, dia tinggal di Mes Pringgodani Lanud kamar nomor 6. Mike, sapaan Michael E. Boyd, mengaku masuk wilayah Indonesia tanpa sengaja.

“Saat itu yang terlintas di benak saya bahwa dua nomor izin penerbangan yang merupakan security clearance (izin melintas) Kinabalu dan Kuala Lumpur (Malaysia) dapat masuk ke wilayah Indonesia. Saya tidak tahu Indonesia seketat ini,” ungkapnya.

Mike mengaku mendapatkan security clearance dari Ruslan J­har (dugaan sementara warga Singapura), agen Hawker Pacific Jet. Menurut Lanud Balikpapan, dua nomor security clearance yang digunakan Mike salah atau tak sesuai dengan data tujuan yang diterima radar pertahanan udara nasional. Yakni, DGCA/KK/103/09/12 dan DGCA/SA/117/9/12.

“Ada sedikit miskomunikasi antara saya dan Ruslan Johar, selaku agen Kinabalu-Singapura. Saya pun dikontak oleh (menara) Gorontalo yang menanyakan perizinan. Sebelum saya sadar, sudah ada dua pesawat Sukhoi di kiri dan kanan,” kata Mike.

Ditanya kapan meninggalkan Indonesia, Mike menjawab singkat. “Secepatnya. Saya sudah menghubungi sanak keluarga di Amerika. Mereka akan mengurus izin penerbangan untuk segera bisa take off dari sini,” katanya sembari menunjukkan percaka­pan via e-mail di layar lap­top miliknya.

Danlanud Balikpapan Kolonel (Pnb) Djoko Senoputro menga­ta­kan, selama ditahan, Mike tidur di kamar standar hotel.

“Mike mengisi kamar yang setara dengan saya. Fasilitas AC, TV, sho­wer. Ada semua. Hanya aktivitas dia dibatasi,” ujarnya. Di Mes Pringgondani, Mike menempati kamar 6, sedangkan Danlanud di kamar 5.

Menurut Djoko, pihaknya mendapatkan perintah untuk mengamankan dan menjaga Mike. Hasil analisis yang sudah dilaporkan sejauh ini, tidak ditemukan barang-barang yang mencurigakan.

“Hanya pakaian pribadi dan beberapa lembar baju dan celana. Ada juga laptop, handphone. Tidak ditemukan bukti dia melakukan foto udara atau aktivitas yang mengancam kedaulatan NKRI. Insiden ini murni kesalahan pilot,” tegasnya.

Sekretaris Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Sesdispenau) Kolonel Sus M Akbar Linggaprana melalui pesan elektronik menyebutkan, pilot bernama Michael A Boyd mengaku dalam misi pengiriman pesawat Cessna 208 baru dari pabriknya di Wichita, Kansas, yang dipesan Hawker Pacific Jet melalui Operator Globeflyers.

Pesawat itu rencananya akan dioperasikan di Papua oleh Yus sebagai pembeli dengan rencana nomor registrasi PK-ICY.

Pesawat berkapasitas maksimal 14 penumpang itu memiliki panjang 12,67 meter dengan jarak jelajah 2.000 kilometer tanpa harus refueling (pengisian bahan bakar). Pesawat tersebut menjalani rute penerbangan pada 24 September lalu, berangkat dari Wichita, Kansas-Santa Maria.

Selanjutnya pada 25 September melintasi California, 27 September mendarat di Honolulu, Hawai, 29 September mendarat di Kosrje, Macronesia, pada 30 September mendarat di Koror, Palau, menuju Singapura lewat wilayah udara Malaysia.

Namun, selepas Palau penerbang membawa pesawat memotong wilayah udara Sulawesi Utara, Gorontalo dan hendak melintasi Kalimantan menuju Singapura. Alasan memasuki wilayah udara Indonesia dikarenakan menghindari cuaca buruk.

Agen dari Hawker Pacific Jet juga telah memberikan nomor perizinan, yang ternyata tidak termasuk melintasi wilayah udara FIR Indonesia. Melainkan hanya izin untuk melintasi FIR Filipina, Singapura dan Malaysia.

Kedutaan Besar AS di Jakarta memberi konfirmasi bahwa ada warganya yang dicegat TNI AU saat menerbangkan pesawat dan melintasi Indonesia tanpa izin.

Menurut Atase Pers Kedubes AS Troy Pederson, seorang warganya telah dihubungi pihak Kedutaan dan men­dapat ban­tuan kekon­su­leran seperlunya.  

“Betul ada seorang warga kami yang berurusan dengan pihak berwenang di Balikpapan,” kata Pederson saat dihubungi Rakyat Merdeka via telepon, kemarin.

Namun, Pederson tidak bersedia memastikan nama warga Amerika itu meski sudah diumumkan pejabat TNI AU.

“Kami tidak bisa memberikan penjelasan lengkap mengenai kondisinya lebih lengkap. Baik itu kepada media atau kepada sesama warga AS. Ini adalah hak pribadi AS untuk dilindungi kerahasiaannya,” terang Pederson sembari menambahkan bahwa Kedubes AS tidak mengalami kesulitan menghubungi warganya yang “nyasar” itu. [rmol/hta]

Komunitas More Parenting Bekerja Sama Dengan Yayasan Pendidikan Dhinukum Zoltan Gelar Seminar Parenting

Sebelumnya

Sahabat Rakyat: Semangat Hijrah Kebersamaan Menggapai Keberhasilan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Komunitas