post image
KOMENTAR
MBC. Operasi kontra teroris di Turki pada kurun 1990an memaksa banyak pimpinan Partai Revolusi Pembebasan Rakyat atau Devrimci Halk Kurtuluş Partisi-Cephesi melarikan diri ke sejumlah negara di Eropa. Dalam kurun waktu yang singkat, partai berhaluan Marxis-Leninis ini populer di kalangan diaspora Turki.

Partai ini didirikan Dursun Karataş pada tahun 1978 dengan nama Devrimci Sol atau Revolusi Kiri, dan menjadikan aksi anti Amerika Serikat dan anti NATO sebagai program utama. Mereka menilai pemerintahan Turki berada di bawah pengaruh penjajah Barat. Menurut mereka, Turki dapat dibebaskan dari belenggu penjajahan baru dengan dua cara yang bertolak belakang, jalan demokrasi dan aksi kekerasan.

Adapun E. Alisan Sanli yang tewas dalam aksi bom bunuh diri di Kedubes Amerika Serikat di Ankara Turki, Jumat (1/2) lalu kembali ke Turki pada 1997. Dia pernah terlibat dalam sejumlah aksi, seperti penyerangan markas polisi di Istanbul dan penyerangan terhadap pejabat tinggi militer dengan menggunakan senjata anti tank. Dia dibebaskan dari penjara pada 2002 karena mengalami gangguan syaraf.

Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan menyebut serangan bom bunuh diri itu sebagai tindakan melawan perdamaian dan kesejahteraan Turki.

Serangan terhadap Kedubes AS di Ankara ini dilakukan hanya beberapa bulan setelah serangkaian serangan yang dialami misi diplomatik AS di Mesit, Tunisia dan Libya. Dalam serangan hari Jumat itu, selain Sanli, seorang penjaga warganegara Turki juga tewas. Sementara seorang jurnalis televisi yang ada di dekat lokasi mengalami luka-luka.

Bulan September tahun lalu massa menyerang Konsul AS di Benghazi, Libya, dan menewaskan Dutabesa Christopher Stevens. [ian/rmol/ans]

Jasa Marga Beri Diskon Tol 30 Persen Selama Dua Hari Untuk Momen Idul Fitri 1447 H, Catat Tanggalnya

Sebelumnya

Al Wasliyah Medan Dukung Walikota Hentikan Aktivitas Ramadhan Fair saat Shalat Tarawih

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ragam