Sebut saja Kevin-Prince Boateng. Pemain asal Ghana itu kerap mendapat hinaan kasar dari penonton. Gelandang AC Milan berusia 26 tahun itu pun akhirnya dengan keras melakukan perlawanan terhadap praktik rasis yang di Italia, khususnya, masih sangat kencang.
Terkait dengan usaha Boateng untuk melawan praktik penodaan terhadap sepakbola itu, penjaga gawang Italia Gianluigi Buffon akhirnya angkat suara. Dengan Semangat, pengawal gawang Juventus itu juga mengutuk rasisme yang menimpa rekan seprofesinya.
"Boateng benar, rasisme seperti malaria dan dan harus disapu bersih dari sepakbola. Ini adalah isu yang rumit, ada yang dibesar-besarkan, tetapi juga ada pelanggaran serius. Masalah ini berbeda jauh dengan polemik sepakbola pada umumnya," ujar Buffon.
Hal yang sama juga disampaikan striker Italia, Mario Balotelli. Super Mario menganggap bahwa dunia sepak bola kurang bersungguh-sungguh membasmi rasisme. Pemain berusia 22 tahun yang lahir di Italia dari orangtua berkebangsaan Ghana, berulangkali menjadi sasaran penghinaan berbau rasis.
Sebenarnya, upaya untuk mengikis kejahatan rasis di dunia sepakbola sudah maksimal diupayakan. Sebagai contoh, PSSI-nya Italia sudah memberikan sanksi kepada Genoa berupa denda sebesar 30 ribu euro karena para pendukungnya menyanyikan lagu bernuansa rasis.
Sementara itu, Asosiasi sepak bola Eropa (UEFA) juga mendenda Kroasia sebanyak 80 ribu euro karena para pendukungnya juga melakukan pelecehan bernuansa rasis dalam ajang Piala Eropa 2012.
Kroasia juga dikenai denda 20 ribu euro oleh UEFA karena kasus rasisme. Bahkan pemain Arsenal Nicklas Bendtner juga terkena hukuman karena ia telah menunjukkan merk celana dalamnya ketika berselebrasi setelah mencetak gol dalam ajang Piala Eropa. [hta]
KOMENTAR ANDA