Ralat itu yakni ketidaklulusan siswa dari 4.564 menjadi 291 Siswa. Maka dari masalah ini Ujian Nasional (UN) harus dihapuskan.
"Hal itu mencerminkan betapa penyelenggaraan UN ini sembarangan dan tidak profesional, karena telah menyangkut banyak murid yang terkena dampaknya," katanya kepada MedanBagus.Com usai acara Training Public Service Monitoring for Media Mainstream Journalist untuk Pelayanan Publik yang Lebih Baik di Hotel Grand Antares Jalan SM Raja Medan, Senin (27/5/2013) sore.
Dia menambahkan, dari berbagai fakta, dirinya menyimpulkan UN itu sebenarnya tidak ada gunanya, seperti perkataan Jusuf Kalla, agar anak belajar dengan giat supaya lulus ujian namun, sebaliknya mengapa UN yang pelaksanaannya amburadul malah memberikan kelulusan bagi siswa sebesar 99 persen.
"Inikan keajaiban namanya, masak dalam 1 hari bisa meralat menjadi hanya sekitar ratusan dari ribuan," selidiknya.
Dia bilang, UN yang awalnya adalah untuk pemetaan ternyata tidak memberikan pemetaan apa-apa.
Hal itu hanyalah suatu project yang amburadul dan pembodohan yang ternyata tidak menghasilkan apa-apa selama bertahun-tahun.
"Jika kritik masyarakat dan guru tidak lagi dipedulikan maka kita serahkan saja kepada pemerintah, jika ingin melanjutkan pembodohan itu, ya lanjutkan saja. Maka bisa diubah depertamen pendidikan dan Dinas Pendidikan menjadi departemen pembodohan," kata Bambang yang juga mantan wartawan Kompas ini sambil tertawa.
Menurutnya, UN jelas harus dihapuskan, karena kenyataannya UN tidak bisa menghadapi anak-anak ini dengan standar dan distandarkan.
Masyarakat bukan tidak setuju dengan standar tetapi yang tidak disetujui adalah standarisasi yang dilihat dari segi kelulusan bukan melihat dari sisi standar itu sendiri.
"Sebenarnya dari lingkungan keluarga dan sekolahlah standar itu lahir, dan hal ini tidak bisa ditentukan dengan kelulusan, ini yang harus ditentang," tegasnya.
"Sebenarnya UN bisa diganti dengan cara latihan-latihan, sampling seperti ujian tim yang menggunakan standar internasional dan hal ini saya rasa lebih efektif ketimbang UN," kata Direktur Sekolah Tanpa Batas Jakarta itu. [ans]
KOMENTAR ANDA