post image
KOMENTAR
Dalam dua pekan terakhir, petugas Bea dan Cukai Polonia Medan berhasil mengamankan dua pelaku yang coba meloloskan sabu dari bandara kebanggaan Sumatera Utara itu.

Seperti Mohammad Ali (27), warga Tangerang, Sabtu sore (22/6/2013), tertangkap petugas security Bandara Polonia Medan karena diduga membawa 4,4 kilogram sabu dalam kotak kemasan Bika Ambon.

Sabu tersebut diduga akan diperjualkan belikan ke Jakarta. Ali tertangkap saat akan terbang dengan maskapai City Link tujuan Jakarta.

Sebelum Ali, petugas Bea dan Cukai Polonia juga menahan seorang pria berinisial BAT (30), karena membawa sabu seberat 129 gram yang disembunyikan dalam celana dalamnya pada 10 Juni lalu.

Maraknya peredaran sabu di Medan ini menimbulkan keprihatinan. Apalagi menurut Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumatera Utara, Kombes Rudi Tranggono, para pelaku yang ditangkap, rata-rata berusia produktif.

Rudi bilang, keterlibatan sejumlah pemuda dalam bisnis jual beli sabu karena keuntungan yang diperoleh sangat luar biasa.

"Bagi mereka (pelaku) bisnis sabu itu sangat menggiurkan. Karena keuntungan dari jual beli sabu tersebut bisa mencapai Rp 30-40 juta per hari. Itu masih bandar sedang," ujar Rudi dalam wawancara dengan MedanBagus.Com Jumat malam (21/6/2013).

Untuk bandar besar, jelas Rudi, keuntungan yang diperoleh lebih besar lagi karena bisa mencapai ratusan juta rupiah. "Umumnya sabu-sabu masuk dari Malaysia. Di sana harga 1 Kg sabu sekitar Rp 300 juta. Kalau dijual di Indonesia bisa mencapai Rp900 juta hingga Rp 1 miliar," jelasnya.

Dari bandar besar, kemudian sabu didistribusikan ke bandar sedang dan kecil. "Bandar sedang biasanya menjual 1 ons. 1 ons dibeli seharga Rp 90 juta. Lalu dijual per gram Rp 1,3 juta. Jadi, keuntungan bandar sedang saja bisa Rp 30-40 juta per hari, karena dari beberapa pelaku yang kita tangkap, sabu itu bisa dijual habis dalam sehari," bebernya.

     Kepala BNN Sumatera Utara, Rudi Tranggono

Keuntungan besar inilah yang membuat para pelaku berbuat nekat. Mereka melakukan cara apa saja untuk bisa menyelundupkan sabu dari Malaysia dan dijual di Medan.

Sebab itu, Rudi mengaku, pihaknya tidak dapat bekerja sendiri dalam memberantas peredaran sabu di daerah ini. "Perlu kerjasama dengan semua pihak dalam mengatasinya. Khususnya Medan, yang sampai saat ini sama sekali belum ada berdiri BNN Kota Medan," pungkasnya heran. 

Hilangnya Jati Diri Seorang Siswa

Sebelumnya

Delapan Butir Maklumat KAMI

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Opini