post image
KOMENTAR
Kecaman terhadap film Soekarno garapan Ram Pujabi dan Hanung Bramantyo terus mengalir. Film tersebut dinilai sudah menyesatkan sejarah proklamator bangsa dan kemerdekaan RI.

Menurut eks Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) 2011-2013, Haryadi, produksi film Soekarno hanya mengejar nilai komersialisasi demi untuk kepuasan dan keuntungan semata.

"Mau jadi apa bangsa ini jika dibuat semaunya dan seenaknya saja demi uang semata. Luar biasa sekali berani mengganti pemahaman sejarah para pejuang proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia yang sangat luar biasa diganti dengan sepenggal kisah cekcok pasutri dan asmara remaja wanita. Ini penyesatan Ram Punjabi dan Hanung," ujar Haryadi dalam rilisnya, Selasa, (17/12/2013).

Jelas dia, film Soekarno sangat membuat hati miris setelah menontonnya, mengusik pikiran sehat selaku anak Bangsa, tak terkecuali para pembaca yang paham akan sejarah sejarah. Mempertontonkan film tersebut terhadap generasi muda bangsa berarti membiarkan generasi muda bangsa ini sesat memahami sejarah.

"Film itu harus segera ditarik dari peredaran dan harus segera dihentikan," tegas Haryadi.

Pengagum Bung Karno ini juga mengatakan, banyak rentetan peristiwa yang tidak sesuai dengan fakta sejarah sebenarnya, perjalanan kisah mengaburkan sejarah ditemui dalam penayangan film tersebut. Bahkan tanpa jelas asal muasalnya film itu tiba-tiba saja menayangkan kisah percintaan.

"Ini pembodohan yang sangat luar biasa, bahkan jika film tersebut ditonton oleh orang yang ingin memahami kisah proklamator itu akan memaknainya berbeda arti," imbuh Haryadi.

Menurutnya, Hanung Bramantyo dan Ram Punjabi semestinya mau bertanya, agar tidak sesat. Bahkan jika mereka perlu referensi buku-buku sejarah seperti DBR, Api Perjuangan Rakyat, Indonesia Menggungat, Penyambung Lidah Rakyat indonesia, dan lain-lain, Haryadi siap memberikan. "Dengan membaca itu mereka jadi paham dan mengerti siapa Bung Karno," papar Haryadi dengan kesal yang menceritakan kekesalannnya seusai menonton film itu beberapa hari yang lalu.

Film yang berdurasi 2 jam 17 menit tersebut, kata Haryadi, benar-benar penyesatan sejarah terhadap sosok Bung Karno, Hatta, Sjahrir dan lain-lain yang ada ditokohkan pada film tersebut. Dan yang paling miris dan sedih adalah, film itu menggambarkan film sejarah murahan yang menggambarkan seorang pendiri negeri ini dipasarkan sebagai penyalur pelacur untuk penjajah negerinya.

"Bukan hanya itu, film tersebut juga mengisahkan bahwa kemerdekaan RI merupakan hadiah Jepang, bangsa pecundang yang baru kalah dalam perang dunia. Padahal perlu mereka ketahui bahwa kemerdekaan itu adalah hasil tetesan keringat, darah dan air mata para pejuang-pejuang dahulu kala, sungguh ironis kemudian jika digambarkan hanya bagian dari hadiah dan pemberian," demikian Haryadi. [rmol/hta]





Komunitas More Parenting Bekerja Sama Dengan Yayasan Pendidikan Dhinukum Zoltan Gelar Seminar Parenting

Sebelumnya

Sahabat Rakyat: Semangat Hijrah Kebersamaan Menggapai Keberhasilan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Komunitas