Pasalnya, sebelum kepergian Rizal yang akrab disapa Jack itu, Hanifah sempat merasa kuatir akan kepergiannya ke Gunung Sinabung.
"Dia pulang tiga hari yang lalu ke rumah. Waktu dia mau berangkat lagi, sudah sempat dilarang, kumarahi dia. Tapi dia tetap ngotot," isak Hanifah mengenang almarhum putra keduanya dari lima bersaudara.
Saat itu, lanjut Hanifah, korban mengaku akan melakukan liputan kembali.
"Katanya ada tugas sambil nunjukan kartu pers. Kularang dia pergi karena aku udah merasa khawatir," tuturnya.
Tidak hanya Hanifah, firasat yang sama juga dirasakan oleh adik-adik korban.
"Keponakannya semalam nangis-nangis di depan kamar Putra (panggilan almarhum di keluarga-red). Sebut-sebut nama Putra.... OOm.. oom...katanya sambil nangis-nangis," kenang Hanifah lagi.
Kesedihan semakin mengguncah Hanifah ketika mendapat kabar duka dari teman seprofesi almarhum yang juga tengah meliput di Tanah Karo.
Hanifah langsung menangis saat pulang ke rumahnya, di Jalan Darussalam gang Karya Bakti nomor 28 Medan.
Kepergian Jack ke Tanah Karo, untuk mengabadikan kehidupan masyarakat yang terkena dampak erupsi Gunung Sinabung. Rencananya karya foto tersebut untuk penggalangan dana yang dilakukan mahasiswa STIK-P.
Saat awan panas terjadi, korban dan rekannya yang turut jadi korban Thomas Milala, berada di tengah-tengah awan panas sehingga tidak bisa menyelamatkan diri.
Menurut Kiki, adik korban, dirinya terkejut mendengar kabar duka yang dialami oleh abangnya itu.
"Nggak nyangka bang. Dia udah dua minggu ke Sinabung aja kerjanya mengambil gambar. Aku nggak tahu kalau terakhir jumpa itu sama bang Putra," ujar Kiki adik keempat Jack.
Sementara itu, pihak kampus mengaku bahwa kedua korban merupakan mahasiswa mereka, namun sejauh ini belum mendapat keterangan resmi. [ded]
KOMENTAR ANDA