post image
KOMENTAR
RMOL. Jumat malam kemarin (16/1) Presiden Joko Widodo oleh banyak kalangan dinilai mengambil keputusan yang tidak lazim terkait posisi puncak di tubuh Polri.

Di satu sisi Presiden Jokowi memberhentikan Jenderal Sutarman dari posisi Kapolri. Di sisi lain, menunda pelantikan Komjen Budi Gunawan untuk menempati kursi kosong itu. Sebagai gantinya Jokowi mengangkat Wakapolri Badrorin Haiti sebagai Palaksana Tugas (Plt) Kapolri.

Jokowi mengatakan, bahwa pelantikan Budi Gunawan ditunda, bukan dibatalkan.

Pernyataan Jokowi tentang penundaan pelantikan Budi Gunawan untuk sementara melegakan kelompok yang tidak menginginkan seorang tersangka kasus korupsi menduduki kursi TB-1. Sementara di saat bersamaan tidak atau belum mematikan harapan kelompok yang menginginkan mantan ajudan Megawati Soekarnoputri itu menjadi Kapolri. Elite politik di sekitar Jokowi, seperti Megawati dan Surya Paloh, masih memberi tekanan agar Budi Gunawan dilantik secepatnya.

Situasi inilah tampaknya yang melatari kecaman dibungkus canda yang disampaikan pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Dalam twit singkatnya pagi ini, Denny JA mengatakan bahwa keinginan itu bukan contoh dari revolusi mental, melainkan sakit mental.

Berikut adalah kutipan dari twit Denny JA itu:

(1) Sang Guru bersabda: Wahai para ketua umum partai, jika kalian masih memaksa tersangka korupsi menjadi Kapolri…

(2) Itu bukanlah contoh revolusi mental, tapi sakit mental.

(3) Itu bukan karena kalian mencintai Jokowi, tapi kalian sedang mendorong Jokowi ke jurang.

(4) Itu bukan karena kalian mencintai Indonesia, tapi kalian sedang ingin mempermalukan Indonesia di mata dunia.

(5) Menjadi nyata, kalian lebih menyintai kepentingan jangka pendek kalian sendiri. Demikian sabda Sang Guru pagi ini (hehehehehehe).
[zul]

KOMENTAR ANDA

Baca Juga