post image
KOMENTAR
KEBUTUHAN menggunakan inisial sama pentingnya dengan kebutuhan manusia akan penggunaan sebuah simbol. Simbol mempermudah manusia untuk mengekspresikan esensi diri seterbuka mungkin, sejujur mungkin dan seadil mungkin.
 
Begitu juga dengan penggunaan inisial, siapapun yang menggunakan inisial atau bisa juga disebut sebuah simbol samaran dapat dengan bebas mengungkapkan apapun dengan berani, jujur, adil dan terbuka.

Penggunaan inisial dan simbol tidak akan menjadikan manusia sebagai pengecut dan tidak bertanggung jawab. Manusia hanya  butuh enumerasi atau penomoran untuk menjalankan kehidupannya.

Lihatlah ke dalam diri, nama asli dari setiap manusia juga merupakan sebuah inisial untuk menyimbolkan esensi dirinya. Jika dikatakan ini sebuah apologize (permintaan maaf), memang benar adanya. Namun di balik hal tersebut mengandung makna bahwa tidak ada gunanya menyampaikan tentang sesuatu atau seseorang dengan tidak terbuka dan tidak menampilkan esensi apa adanya. Tidak ada gunanya jika harus menafikan esensi hanya untuk menjaga kepatuhan akan kesaktian sebuah nama.

Oleh karena itu, mari kita mulai pembahasan inti dari tulisan ini. Tulisan yang penuh dengan penyimbolan dan penginisialan untuk lebih terbuka menyampaikan analisis tentang esensi dari dampak pertemuan dua manusia.

Dua manusia ini adalah Mr. J dan Mr. Z. Mr. J adalah presiden sebuah negara  yang berjuluk tanah surga bekas jajahan kompeni, berada di garis khatulistiwa dan merupakan negara kemaritiman. Sedangkan Mr. Z adalah seorang pendiri sekaligus CEO sebuah media sosial besar dan ternama, bisa dikatakan media sosial biru sebab mayoritas warna pada media sosial tersebut adalah biru.
 
Pada 2014 lalu, tepatnya menjelang akhir tahun terjadi sebuah pertemuan perdana di antara keduanya. Perlu diketahui bersama, pertemuan basa-basi dan tanpa arti hanya terjadi di sebuah pinggiran, ditokohkan oleh orang-orang yang tidak kaya akan sebuah pengaruh.

Lantas, mungkinkah bertemunya dua orang berpengaruh di tempat yang sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai pinggiran hanya sebatas pertemuan biasa tanpa arti dan membicarakan hal yang sekedar basa-basi?

Tentu saja tidak mungkin, dua orang ternama dan berpengaruh di daerah kekuasaannya tersebut tidak akan membuang waktu-waktunya untuk menjalankan sebuah pertemuan biasa tanpa arti yang luar biasa. Pasti ada perundingan untuk mencapai kata sepakat, menyepakati  sebuah konsesi yang akan saling menguntungkan.

Bayangkan saja, bagaimana seorang presiden dari sebuah negara besar, negara yang memiliki kekayaan potensi memiliki kehendak untuk menjalankan aktivitas kosong?
Untuk menjalankan tugas wajib saja sebenarnya butuh lebih dari 24 jam dalam sehari.

 Tidak ada pernyataan secara terbuka dan mendalam Mr. J setelah mengunjungi Mr. Z kala itu. Tidak ditemukan juga manfaat apa yang dapat diterima masyarakat Indonesia setelah pertemuan itu.

Mungkin memang tidak bisa untuk mengetahui manfaatnya, sebab setelah pertemuan tersebut hanya ditemui sampah-sampah hidup pada lalu lintas media sosial biru itu di Indonesia. Kita semua pasti pernah melihatnya.

Sampah-sampah tersebut seperti virus yang datang begitu saja tanpa dikehendaki dan entah dari mana datangnya. Kita semua merasakannya, mulai dari artikel-artikel hoax dan tak bertanggung jawab, video-video tak senonoh, hingga akun-akun dan grup-grup asing.

Apakah itu memang benar-benar sebuah virus yang datang dari pihak di luar perusahaan media sosial biru tersebut?

 Itu bukan virus penyusup, mereka punya sistem keamanan yang canggih untuk mencegah masuknya virus dari luar. Sistem keamanan yang dapat memblokir segala aktivitas di luar standar yang telah ditentukan perusahaan. Kalau begitu keadaanya, itu pasti virus yang memang sengaja ditanam untuk dikonsumsi oleh para penghuni  negara maritim di bawah kepemimpinan Mr. J.

Apa untungnya untuk Mr. J. Dan apa untungnya untuk Mr. Z?

Segala konsesi yang telah terbangun akan memberikan keuntungan untuk masing-masing pihak. Keuntungan Mr. Z. sangat sederhana. Layaknya perusahaan lain, Mr. Z. ingin pasti ingin mendapatkan finansial tertentu.

Lalu bagaimana dengan Mr. J?

Ini yang sangat berbahaya, keuntungan untuknya dapat menyebabkan hadirnya bencana kepada penghuni negara yang sedang dipimpinnya. Artikel-artikel hoax dan tak bertanggung jawab, video-video tak senonoh, hingga akun-akun dan grup-grup asing tersebut dapat mematikan nalar berpikir. Dari matinya nalar berpikir tersebut akan mengakibatkan kebodohan dan keengganan dalam memperjuangkan kebenaran.

Di situ letak keuntungan yang akan dimanfaatkan Mr. J, manusia-manusia yang dipimpinnya akan semakin memperdebatkan hal-hal kosong yang tentunya disebabkan oleh kematian nalar berpikir. Manusia-manusia yang dipimpinnya tidak lagi ingin dan sama sekali tidak suka membahas segala aktivitas dan tanggung jawab presiden. Ketika tingkat keadaan ini telah terjadi, maka disitulah terdapat celah untuk menggunakan dengan liar status kepresidenannya.

Liar bisa mengakibatkan kesewenang-wenangan, sesuka hati menggunakan wewenangnya. Presiden sebagai mandataris merupakan perwakilan atas nasib negara tersebut. Jika negara ingin dijual kepada pihak asing, maka penghuni negara yang sudah terbodohkan oleh media sosial biru tadi tidak akan mampu berbuat apapun untuk mencegahnya, memikirkannya saja pun sudah tidak bisa.

Nasib negara akan benar-benar berada di ujung hasrat liar Mr. J.

Pada pertengahan Februari 2016 mereka kembali bertemu, kali ini apalagi yang menjadi konsesi mereka?
Bersama-sama kita akan segera melihatnya.
 
#NikmatnyaSeranganFajar
 

Jutaan Umat Islam Indonesia Telah Bersatu Dalam Gerakan Masif, Tak Pernah Disangka

Sebelumnya

Ketergilasan Gerakan Masif Jutaan Umat Islam Indonesia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Serangan Fajar