post image
KOMENTAR
Kasus kekerasan seksual yang berujung pembunuhan yang  korbannya wanita bukan pertama kali terjadi. Sejumlah kasus serupa terus bermunculan di sejumlah wilayah di Indonesia sejak kasus pemerkosaan massal menimpa siswi SMP, Yuyun di Bengkulu, terungkap.

Namun ironisnya, beberapa pelaku diketahui masih berusia di bawah umur. Terakhir, kasus pemerkosaan dan pembunuhan menimpa Angesti Sistiana (20) di RT 17/4 Kampung Sungapan, Desa Kadudampit, Kecamatan Kadudampit, Kota Sukabumi, Jawa Barat pada Sabtu (11/6).

Pelaku DS alias Adi (21), berhasil ditangkap petugas tak lama setelah melakukan aksinya.

Kriminolog Universitas Padjajaran, Yesmil Anwar menilai, kasus-kasus kekerasan seksual disertai pembunuhan ini dipicu beberapa hal. Salah satunya proses pembelajaran dan kurangnya kontrol sosial di lingkungan sekitarnya.

"Untuk pelaku anak misalnya, biasanya karena kontrol lingkungannya kurang terhadap perilaku seksual anak-anak ini dan proses pendidikan seks untuk mereka tidak ada sehingga mereka belajar sendiri. Mereka belajar secara cepat, keliru, dan akhirnya ingin coba-coba," kata Yesmil seperti dimuat RMOLJabar.Com, Rabu (14/6).

Untuk pelaku dewasa, lanjut dia, dipengaruhi adanya pergeseran moral sehingga mereka sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Para pelaku kejahatan dengan mudah melakukan perbuatannya lantaran kurangnya kontrol sosial.

Dikatakannya, saat ini orang gampang marah, kekerasan sering terjadi, dan yang paling mengerikan orang mudah sekali membunuh orang lain dengan alasan yang sederhana.

"Kasus kekerasan seksual ini belum akan berhenti sebelum ada penyelesaian yang tuntas, baik dari segi pendidikan dan penegakan hukum," pungkasnya.[hta/rmol]

Komunitas More Parenting Bekerja Sama Dengan Yayasan Pendidikan Dhinukum Zoltan Gelar Seminar Parenting

Sebelumnya

Sahabat Rakyat: Semangat Hijrah Kebersamaan Menggapai Keberhasilan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Komunitas