post image
KOMENTAR
Keputusan Presiden Joko Widodo mencalonkan Komjen Pol Tito Karnavian untuk posisi Kapolri sebenarnya tak terlalu mengejutkan.

Pertama, bagi orang-orang yang memahami tabiat Jokowi, pasti mereka akan selalu siap dengan kejutan. Dengan demikian, "kejutan" yang sudah disiapkan itu menjadi bukan kejutan lagi (bagi yang mengerti Jokowi).

Kedua, Jokowi mencitrakan dirinya sebagai perombak tradisi lama (revolusi mental) juga "gila" kerja. Dua tabiat itu identik dengan generasi muda. Dalam tradisi kepemimpinan nasional, Jokowi pun masih terbilang muda dengan usia 54 tahun. Cukup bandingkan dengan wakilnya yang sudah 74 tahun. Atau, dengan sahabat dekatnya yang juga menjabat "menteri utama", Luhut Panjaitan dengan usia 68 tahun.

Jika sudah tahu Jokowi suka mengejutkan, perombak tradisi usang, gila kerja, menyukai anak muda berprestasi, maka penunjukan nama Tito bukan lagi kejutan. Justru heranlah kita kalau partai pengusungnya sendiri mengaku kaget atas munculnya nama Tito, meski Tito melompati empat angkatan di atasnya.

Tito Karnavian, pria kelahiran Palembang 51 tahun lalu, lulusan terbaik Akademi Kepolisian (Akpol) pada tahun 1987, dan paling melejit di antara kolega sebayanya. Prestasinya antara lain memimpin tim yang menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto dalam kasus pembunuhan hakim agung Syafiudin, membongkar jaringan terorisme di Indonesia, salah satunya kelompok Azhari di Malang, Jawa Timur (2005), bertugas menangkap para tokoh di balik konflik di Poso (2007), terlibat dalam operasi anti teroris menumpas kelompok Noordin M. Top (2009).

Pada 2012, ia dipercaya menjadi Kapolda Papua sampai Juli 2014. Setelah itu ia kembali ke Mabes Polri selama setahun. Pada Juni 2015, ia diangkat menjadi Kapolda Metro Jaya untuk waktu yang tidak terlalu lama. Pada Maret lalu, ia menerima tugas dari Presiden Jokowi untuk menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme sekaligus kenaikan pangkat menjadi bintang tiga

Tidak sulit untuk mencari catatan penugasan dan jejak akademis Tito di luar negeri. Ia pernah bertugas sembari menimba ilmu di Inggris, Perancis, Spanyol, Belanda, Jerman, Austria, Rusia, Amerika Serikat, Australia, Saudi Arabia, Mesir, Uni Emirat Arab, Turki, Hong Kong, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Di negara terakhir, Tito meraih gelar Ph.D dalam bidang ilmu Terorisme dan Radikalisasi dalam Islam dari  S. Rajaratnam School of International Studies.

Melihat lagi deretan prestasi dalam puluhan kasus menonjol yang ditanganinya, latar belakang pendidikan dan spesialisasinya di bidang anti teror, plus keuntungan berusia sangat muda untuk pangkatnya sekarang, hampir sulit menemukan pihak yang berani menolak pencalonan Tito. Dukungan terus mengalir, meski ada delapan senior bintang tiga yang dilangkahi Jokowi untuk menunjuk Tito.
 
Kita sudahi membahas Tito dan pencalonannya. Mari kita beralih ke hal lain yang tak kalah penting. Mungkinkah lompatan empat angkatan yang dilakukan Presiden Jokowi dalam regenerasi Trunojoyo-1 akan berlaku pula di tubuh Tentara Nasional Indonesia?

Tentu saja bisa. Apalagi dengan kewenangan luar biasa besar yang dimiliki seorang Presiden, hampir mustahil ada kekuatan yang berani melawan. Apalagi calon itu bersih rekam jejak, muda, berpretasi dan brilian, setidaknya seperti atau bahkan melebihi level Tito.

Di TNI, salah satu perwira tinggi seangkatan Tito (Akmil 1987) yang paling menonjol adalah Mayor Jenderal TNI Andika Perkasa (51 tahun).

Andika juga kenyang dengan pendidikan ala Barat. Tiga gelar akademik Strata-2 dan satu gelar akademik Strata-3 (Ph.D) didapatkannya dari perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat, antara lain di The Military College of Vermont, Norwich University dan Harvard University.

Sama seperti Tito, lompatan karirnya di TNI juga sering jadi sorotan. Misalnya ketika ia dilantik menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres), tiga hari setelah Jokowi resmi menjabat Presiden.

Kala itu, muncul pertanyaan mengapa Danpaspampres tidak dipegang oleh lulusan Akmil Angkatan 86 setelah sebelumnya dijabat Mayjen TNI Doni Monardo (lulusan Akmil 1985). Toh sebelumnya pun, Danpaspmpres dijabat oleh tokoh Angkatan 1984 yakni Mayjen TNI Agus Sutomo.

Sekarang, menantu dari eks Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono (tokoh pemenangan Jokowi di Pilpres 2014) itu sedang bertugas sebagai Panglima Kodam XII/Tanjungpura. Ia juga sebagai lulusan Akmil 87 pertama yang berpangkat Mayor Jenderal.

Posisinya sekarang selaku Panglima Daerah Militer dianggap banyak kalangan tinggal "selemparan batu" untuk mencapai posisi tertinggi yaitu Panglima TNI. Setidaknya ada dua-tiga pos lagi yang mesti dilaluinya.

Panglima yang sekarang, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, masih dua tahun lagi untuk mencapai pensiun (Angkatan 1982). Tapi dengan kekuasaan presiden yang begitu besar untuk mengintervensi regenerasi di TNI-Polri, dan tabiatnya yang seperti disebutkan di awal tulisan ini, bukan tak mungkin akan ada "lompatan besar" untuk urusan puncak kepemimpinan TNI.

Kapankah? Itulah di saat "kejutan" bukan lagi menjadi kejutan. [hta/rmol]

Komunitas More Parenting Bekerja Sama Dengan Yayasan Pendidikan Dhinukum Zoltan Gelar Seminar Parenting

Sebelumnya

Sahabat Rakyat: Semangat Hijrah Kebersamaan Menggapai Keberhasilan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Komunitas