post image
KOMENTAR
Tunjangan Hari Raya (THR) tidak hanya ditunggu-tunggu pleh para pekerja. Setiap orang yang akan merayakan Hari Raya Idul Fitri juga menunggu datangnya uang THR.

Tidak hanya menunggu datangnya, uang THR itupun tak mantap dirasa jika lembaran uangnya tidak kaku (baru). Hal tersebut kemudian setiap tahun menjelang Hari raya Idul Fitri menjadi pendorong masyarakat untuk menukarkan uangnya menjadi uang yang berpecahan lebih kecil dan keras.

Seorang warga Medan, Andi Sutomo (29) yang telah menukarkan uang pecahan Rp. 100.000 menjadi pecahan Rp. 10.000 dan Rp. 5.000 di mobil Bank penukar uang di Lapangan Benteng mengatakan kepada medanbagus.com, Selasa (28/6) bahwa dirinya dan keluarga tidak akan melewatkan Hari Raya Idul Fitri tanpa saling berbagi THR dengan pecahan kecil dan baru.    

"Setiap tahun keluarga kami memang selalu ada bagi-bagi THR bang, orang lain pun rata-rata juga gitu bang. THR dengan uang baru gak bisa lagi ditinggalkan bang, yang belum kerja setiap tahun pasti nunggu. Saya juga gak mau mereka yang belum kerja sedih di Hari Raya karena gak dapat THR uang baru," katanya.

Ketika ditanyai tentang asal muasal kebiasaan membagikan THR di Hari Raya, Andi sama sekali tidak mengetahuinya dan ia berkata sejak kecil ia hanya mengikuti kebiasaan tersebut.

"Kalau sejarahnya kenapa dan kapan ini dimulai kurang tahu juga bang. Soalnya dari kecil aku udah cuma ngikuti kebiasaan ini aja. Gak pernah nanya sama orang tua tentang sejarahnya," ujarnya.

Namun walau tidak mengetahui asal muasal kenapa dan sejak kapan pembagian THR dengan uang baru di Hari Raya Idul Fitri dimulai, Andi merasa tidak pernah mengeluh dan keberatan ketika mengeluarkan uang untuk dibagikan pada hari besar umat Islam tersebut.

"Dari kecil itu kan ngerasain senangnya dapat uang THR itu bang. Jadi kita pun pasti pengen lihat adek-adek, keponakan, saudara-saudara senang karena dapat THR. Aku pribadi malah senang bang bisa punya rezeki untuk bagi-bagi uang THR, gak pernah keberatan. Kalau kita gak pelit, ada ajanya rezeki itu bang," katanya sambil tersenyum.

Sementara ketika ditanyai kenapa harus menukarkan uang berpecahan besar dengan uang baru dari Bank, Andi menjawab hal tersebut akan menambah kesenangan anak-anak ketika mendapatkan THR.

"Kebanyakan yang dikasih THR di rumah nanti kan anak-anak itu bang, orang itu udah pasti lebih suka uang yang baru. Namanya juga anak-anak,"ucapnya.

Kebiasaan membagikan uang di Hari Raya Idul Fitri memang mustahil dapat dilepaskan dari kehidupan kita. Walaupun masih ada banyak orang yang justru diberatkan dengan adanya kebiasaan tersebut. Sikap keberatan akan muncul dari orang-orang yang memiliki ekonomi pada tingkat yang rendah. Hal tersebut akan menjadi sebuah beban besar yang akan dihadapinya.

Dengan adanya beban yang berat untuk orang-orang berekonomi ke bawah dalam kebiasaan memberikan uang di Hari Raya, mungkin saja dapat menyebabkan orang-orang tersebut terdorong untuk melakukan apa saja demi mendapatkan uang agar digunakan sebagai THR. Bahkan mungkin saja dapat terjadi tindakan yang mengarah kepada kriminalitas, seperti penipuan dan pencurian.

Setelah mendengar hal tersebut, Andi Sutomo, seorang ayah beranak satu dan bekerja sebagai wiraswasta tersebut diam sejenak lalu mengatakan bahwa perlu kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menghadapi kebiasaan membagikan uang di Hari Raya.

"Sebenarnya baik bang kalau saling berbagi gini di Idul Fitri kan. Cuma ya kita harus menghormati juga orang-orang yang ekonominya rendah. Kita juga gak mau kalau ada saudara kita yang gara-gara terpaksa ngeluarkan duit banyak di Hari Raya jadi buat yang gak baik seperti mencuri atau menipu itu bang. Kita semua saling dewasa lah, kita ajari anak-anak untuk tidak meminta," jelasnya.

Kebiasaan membagikan uang baru di Hari Raya akan terus terjadi di Hari Raya Idul Fitri seterusnya. Kebiasaan yang telah dilakukan untuk sekian lama tersebut sulit dihapuskan. Ada orang yang pro dan tidak sedikit juga yang kontra terhadap uang THR tersebut.

Ada benarnya kata Andi tadi, langkah awal untuk mengikis kebiasaan yang dapat menyulitkan orang-orang berekonomi rendah tersebut adalah dengan mengajarkan kepada anak-anak kita untuk tidak pernah meminta dan mengharapkannya. [sfj]

FOSAD Nilai Sejumlah Buku Kurikulum Sastra Tak pantas Dibaca Siswa Sekolah

Sebelumnya

Cagar Budaya Berupa Bangunan Jadi Andalan Pariwisata Kota Medan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Budaya