post image
KOMENTAR
Rasa sedih dialami oleh Yofanny Pradita (17) siswi kelas lll jurusan IPA yang menuntut ilmu di SMA Swasta Setia Budi, Jalan Perintis Kemerdekaan, Binjai Utara.

Meski dirinya mempunyai Kartu Indonesia Pintar (KIP), namun dirinya tetap tidak boleh mengikuti Ujian di sekolahnya karena belum membayar uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) selama setahun.

Saat di temui medanbagus.com dirumahnya, di Jalan Kemuning, Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara, Selasa (20/12) sekira Pukul 11.00 WIB, orang tua Yofanny Pradita yang bernama Mimi Fauziah, menceritakan semua keadaan ekonominya, hingga dirinya tidak mampu membayar SPP untuk anaknya.

Di rumah papan yang reot dan kursi yang penuh dengan tempelan kayu, Mimi Fauziah yang merupakan seorang Janda, dan menjadi tukang cuci pakaian di rumah para tetangganya, dan di dampingi oleh Yofanny Pradita yang tampak baru pulang sekolah, berharap agar anaknya bisa mengikuti ujian susulan, karena ujian Reguler sudah selesai.

"Anak saya memang belum membayar uang SPP selama setahun, makanya pihak sekolah melarang anak saya mengikuti ujian semester," katanya sembari menunjukkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) milik putrinya yang di tolak pihak sekolah karena belum terdaftar.

Janda beranak empat itu juga menambahkan, dirinya pernah menitipkan uang sebesar 150 ribu yang dia kumpulkan dari hasil mencuci dan mensetrika pakaian tetangga, untuk mencicil uang SPP agar anaknya bisa ikut ujian.

"Saya kepingin sekali agar anak saya ujian, makanya saya dapat uang itu langsung saya Kasikan ke anak saya untuk mencicil uang SPP, tapi sama pihak sekolah malah di masukkan uang kas untuk biaya perpisahan," beber Mimi.

Usai mendengar cerita dari orang tua Yofanny Pradita, medanbagus.com langsung menuju SMA Swasta Setia Budi, yang beralamat di jalan Perintis Kemerdekaan, Binjai Utara.

Di sekolah tersebut, awak media tidak bisa bertemu dengan kepala sekolah, Hamzah SP, dan di terima oleh Khairani, Nst, SPd, yang menjabat Ketua Panitia Ujian di sekolah tersebut.

"Sebenarnya peraturan sekolah memang seperti itu, bagi murid yang belum membayar SPP, tidak boleh mengikuti ujian, tapi kami coba bantu untuk ikut ujian susulan," beber Khairani sembari mengatakan kalau orang tua Yofanny pernah datang ke sekolah tersebut, namun kembali pulang karena tidak bertemu dengan Kepala Sekolah.

Khairani juga mengatakan, bahwa persoalan Yofanny adalah hal yang sepele, sehingga meminta awak media untuk tidak mengutip perkataannya.

"Kalau saya menilai, sekolah kami adalah sekolah Swasta terbaik di kota Binjai. coba aja lihat sendiri, Tiofanny dari kelas satu SMA tidak pernah bayar uang SPP, tapi kami perjuangkan. Permasalahan ini kan sangat Sepele, jadi jangan di besar besarkan di media," tambah Khairani.

Khairani mengatakan, akan segera mengikutkan Yofanny Pradita pada ujian susulan, yang akan di lakukan sebentar lagi.

Sementara itu di ruangan Khairani Nst, SPd, tertulis jumlah Dana bos untuk tahun 2016 sebesar 40.600.000,-[rgu]

Sekolah Ditutup 14 Hari, Gubernur Edy Rahmayadi: Belajar Dirumah

Sebelumnya

Imbas Corona, SMA/SMK Di Sumut Mulai Belajar Mandiri Di Rumah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Pendidikan