post image
KOMENTAR
JMBC. Bisa jadi dugaan sementara kalangan selama ini benar. Kemenangan Joko Widodo-Basuki Tjahja Purnama akan memuluskan jalan Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto menuju Pilpres 2014.

Sosok Prabowo memang tidak bisa dilepaskan dari Joko Widodo, dan juga Basuki , selama Pilkada DKI Jakarta. Prabowo, tentu saja selain Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, disebut-sebut berada di belakang kesuksesan duet pasangan yang menurut hasil hitung cepat berbagai lembaga survei mengalahkan pasangan incumbent Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli.

Kehadiran Prabowo di balik Joko Widodo-Basuki pun memiliki plus minus yang hampir sama. Positifnya, Prabowo yang dinilai sebagai anti-tesis SBY, hadir di tengah kerinduan sebagaian masyarakat akan pemimpin yang tegas. Negatifnya, tidak sedikit yang menjagokan Joko Widodo namun akhirnya mundur karena khawatir dengan sosok mantan Komandan Jenderal Kopassus, yang dinilai masih meninggalkan jejak persoalan di masa silam, terutama terkait dengan hak asasi manusia.

Kembali ke persoalan jalan Prabowo menuju Pilpres 2014. Usai hitung cepat hasil Pilkada Jakarta dilakukan, Prabowo pun langsung menyikapi jauh ke depan. Prabowo memberi sinyal akan melanjutkan koalisi dengan partai berlambang banteng moncong putih itu, termasuk dalam Pilpres 2014. Prabowo pun membenarkan asumsi, dan mungkin juga kehendak sebagian orang, untuk berduet dengan puteri Megawati, Puan Maharani.

Sinyal, atau tepatnya keinginan, Prabowo ini tentu bukan sinyal sembarangan. Apalagi, pasca Pilpres 2009, banyak politisi Gerindra yang terus mewacanakan "perjanjian gelap" antara Megawati dan Prabowo. Kabarnya, dalam perjanjian itu, Megawati atau PDI Perjuangan, akan mengusung Prabowo sebagai capres dalam Pilpres 2014.

Namun, benarkah hal ini akan memuluskan jalan mantan menantu Soeharto itu menuju RI 1? Nampaknya belum tentu. Minimal, ada tiga persoalan yang mengganjal dan menjadi kerikil bagi Prabowo untuk menggandeng PDI Perjuangan di Pilpres 2014.

Persoalan pertama, terkait dengan perjanjian itu sendiri. Bila banyak politisi Gerindra yang memastikan ada perjanjian tersebut, banyak politisi PDI Perjuangan yang justru membantahnya. Perjanjian "koalisi berlanjut" itu tidak pernah ada, dan bangunan koalisi di 2014 sangat tergantung pada dinamika politik mendatang.

Persoalan kedua, terkait dengan posisi PDI Perjuangan. Sebagai partai besar yang juga memiliki ketua umum dengan tingkat elektabilitas papan atas, tidak mudah bagi PDI Perjuangan menyerahkan kursi RI 1 kepada Partai Gerindra yang baru berusia beberapa tahun, dengan tingkat perolehan suara yang belum tentu mengungguli PDI Perjuangan.

Hal lain yang perlu dicatat terkait dengan posisi PDI Perjuangan ini adalah persoalan faksionalisasi di tubuh partai yang pada zaman Orde Baru bernama PDI itu. Fakta yang tak bisa dipungkiri, ada faksi Taufik Kiemas dan faksi Megawati yang semakin hari semakin mengental. Dalam beberapa kasus dan momentum, kedua faksi ini nampak berhadap-hadapan secara terbuka. Bila kubu Taufik Kiemas cenderung lebih taktis, maka kubu Megawati cenderung lebih ideologis.

Persoalan ini semakin runcing karena para loyalis Megawati justru tidak terlalu mengapresiasi karir politik Puan, yang dinilai hanya mengandalkan ketokohan sang bapak. Kelompok loyalis Megawati ini pun disebut-sebut selalu mengganjal keinginan Taufik Kiemas untuk memasukan Puan ke dalam kabinet SBY. Tentu saja, ini menjadi kerikil tajam bagi Prabowo yang tidak mudah diatasi, bila memang mau berduet dengan Puan.

Persoalan ketiga, dan masih terkait dengan faksionalisasi di PDI Perjuangan. Para loyalis Megawati yang masih menghendaki sang ketua umum untuk tetap maju sebagai capres dalam Pilpres 2014, disebut-sebut mulai mendekati dan terus merapat ke Jusuf Kalla. Mereka pun mau memasangkan Megawati dan Jusuf Kalla.

Kedekatan Megawati dan Jusuf Kalla ini semakin terbuka dalam Pilkada Jakarta. Ternyata Jusuf Kalla lah yang pertama kali mengajukan nama Joko Widodo sebagai calon gubernur DKI Jakarta, dan itu disetujui Megawati.  Bila wacana menduetkan Megawa-JK ini mengkristal, maka sosok Jusuf Kalla dipastikan menjadi batu ganjalangan, atau malah menjadi batu karang, yang sulit ditembus Prabowo.

Bila melihat persoalan di atas, tentu saja jalan Prabowo menjadi capres dengan menggandeng PDI Perjuangan masih berliku dan curam. Nasib Prabowo pun akan menjadi kian suram bila ternyata perolehan suara Gerindra tidak berbanding lurus dengan tingkat elektablitas dirinya. [ysa]

Laporan Keuangan Diterima Dalam RUPS, Pelaporan Hingga Penahanan Mantan Direktur PT GKS Dinilai Rancu

Sebelumnya

Program Rabu 'Walk In Interview' Dikerumuni Pencari Kerja di Medan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Peristiwa