post image
KOMENTAR
MBC.  Mahasiswa meminta pemerintahan SBY-Boediono dan seluruh elemen bangsa berjuang menyelamatkan bangsa Indonesia dari ancaman kerawanan pangan.

Demikian seruan mahasiswa Indonesia di Jepang dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Senin (15/10). Pernyataan ini dikeluarkan dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia, yang diperingati pada 16 Oktober setiap tahunnya.

"Momentum ini harus dijadikan sebagai motivasi bersama semua pihak untuk menyelamatkan bangsa Indonesia. Ironis sekali, Indonesia negara yang subur dan kaya sumber daya pangan, namun masih saja ada kelaparan di beberapa daerah dan masih ada krisis bahan pangan seperti kedelai, beras dan minyak goreng. Hal ini menunjukan pengelola negara ini tidak memiliki visi soal pembangunan pangan, padahal hidup mati sebuah negara ditentukan atas pangan," ucap Geradi Yudhistira, Koordinator Pengkajian Strategis PPI Jepang.

Menurut Geradi, solusi pemerintahan SBY-Boediono atas permaslahan pangan tidak menyentuh akar permasalahan. Alih-alih memperbaiki manajemen pengelolaan pertanian, pemerintah malah sibuk mengimpor lebih banyak pangan, mengundang investasi besar-besaran dan memasukan benih-benih pangan transgenik.

"Hal ini malah memukul habis petani-petani lokal yang merupakan aktor utama dalam penyediaan pangan di meja," tegasnya.

Untuk diketahui, pengamat pertanian, Subejo mengatakan carut-marut kebijakan pangan di Indonesia tidak lepas dari kegagalan manajeman dalam mengelola pasar dan ketiadaan insetif pada petani yang berujung pada keengganan petani untuk menanam tanaman pangan pokok seperti kedelai, jagung, dan lain-lain.

“Jika dibandingkan dengan Jepang, maka kita akan tahu betapa sangat berbeda 180 derajat dengan kondisi petani kita. Pemerintah Jepang mensubsidi petaninnya sebesar 15.000 yen (1.800.000 rupiah) setiap 0,1 ha sawah persekali tanam sehingga kalau paceklik mereka masih bisa hidup. Di samping itu juga di Jepang terdapat mekanisme perlindungan terhadap produk pertanian dan  prosedur ketat untuk alih fungsi lahan sehingga produksinya selalu terjaga," lanjutnya ketika dihubungi mahasiswa via teleconference. Subejo adalah juga alumni Tokyo University. [rmol/hta]

Laporan Keuangan Diterima Dalam RUPS, Pelaporan Hingga Penahanan Mantan Direktur PT GKS Dinilai Rancu

Sebelumnya

Program Rabu 'Walk In Interview' Dikerumuni Pencari Kerja di Medan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Peristiwa