Menurut Direktur Insitute Global Justice (IGJ), Salamuddin Daeng, salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah ini karena aliran dana keluar yang terus membesar, khususunya untuk membayar utang pemerintah dan utang swasta.
Setiap triwulan, kata Salamuddin, lebih dari 40 triliun harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk membayar bunga utang dan cicilan utang pokok. Sementara pada saat yang sama, tidak ada aliran dana masuk baik dalam bentuk investasi maupun utang baru.
"Krisis yang melanda Uni Eropa dan AS merupakan penyebab utama pelemahan rupiah," kata kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 16/10).
Selain itu, lanjut Salamuddin, bangkrutnya berbagai perusahaan komoditas unggulan Indonesia seperti batubara dan komoditas mineral lainnya, ikut memicu pelemahan rupiah, mengingat beban utang yang harus dibayarkan sektor swasta menambah aliran modal keluar.
Kini, posisi utang pemerintah lebih dari Rp 2.000 triliun baik dari dalam maupun luar negeri. Sementara posisi utang swasta luar negeri lebih dari Rp 1.000 triliun.
"Posisi utang dan kecendrungan krisis ini akan semakin membahayakan ekonomi Indonesia dalam hari-hari ke depan," demikian Salamuddin. [rmol/hta]
KOMENTAR ANDA