Ketua Umum PPA Kosmetika Putri Kuswisnuwardani mengatakan, saat ini impor ilegal produk komestika sudah mencapai Rp 20 triliun. "Angka itu sepertiganya dari market dalam negeri yang mencapai Rp 60 triliun," ujarnya di acara pameran produk industri dan obat tradisional di Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kemarin.
Menurut Putri, dengan era globalisasi sekarang produk impor yang masuk mengalami kenaikan empat kali lipat. Yang lebih bahayanya lagi adalah kenaikan impor ilegal yang jumlahnya lebih besar dibanding impor resmi.
Dia mengaku heran dengan tingginya serbuan produk impor tersebut, apalagi pemerintah sudah mengatur pintu masuk importasi komestik melalui empat pelabuhan saja. "Produk-produk impor ini banyak masuk melalui pelabuhan tikus," katanya.
Ditanya dari mana asal produk komestika ilegal tersebut, Putri hanya menjawab dari negara tetangga, tanpa merinci lebih lanjut. Menurutnya, saat ini impor produk komestik yang resmi banyak masuk dari Malaysia, Thailand dan China.
Putri mengatakan, penyebaran produk-produk impor banyak ditemukan di daerah luar Jakarta. Karena itu, dia meminta Kementerian Perdagangan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) bekerja sama dengan Bea Cukai menekan impor ilegal tersebut.
Selain itu, dia mengeluhkan soal bahan baku karena banyak diekspor dalam bentuk mentah. Alhasil, industri komestik dalam negeri kekurangan dan harus impor. Ditambah industri pengolahan bahan mentah menjadi bahan setengah jadi juga masih minim. "Saat ini hanya industri pengolahan baru bisa memenuhi 30 persen kebutuhan lokal," tandasnya.
Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan, tantangan industri komestika dalam negeri adalah membanjirnya produk komestik impor di pasar domestik. Menurutnya, tahun ini penjualan komestik impor akan tembus Rp 2,44 triliun, meningkat 30 persen dibanding penjualan 2011 yang mencapai Rp 1,8 triliun.
"Kenaikan ini memang dipengaruhi oleh perminataan pasar akan produk premium dan bermerek," katanya. [rmol/hta]
KOMENTAR ANDA