post image
KOMENTAR
Pasar ekspor kertas asal Indonesia diperkirakan goyang menyusul penolakan dari Walt Disney Company Amerika Serikat. Kemendag segera bersikap.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pulp And Kertas Indonesia (AP­KI) Liana Bratasida mene­gas­kan, tuduhan yang dilontarkan oleh beberapa perusahaan luar ne­geri seperti Disney perlu di­buk­­tikan. Jika tidak, pihak­nya meya­kini, penolakan dari sa­lah satu peru­sahaan asal Negeri Paman Sam ini hanya sekedar merusak pasar ekspor kertas Indonesia.

“Ini bagian dari persaingan glo­bal yang terus meningkat. Di ne­gara tujuan ekspor, berupaya me­lindungi produksi dalam nege­ri­nya sehingga mereka melaku­kan ber­bagai cara untuk me­ngurangi ke­tergantungan impor, termasuk pro­duk dari Indonesia,” jelasnya.

Sebelumnya, delapan peru­sa­haan Jepang juga mengajukan duga­an praktik dumping tersebut. Ada­pun perusahaannya adalah Nip­pon Paper Industries Co.Ltd, Nip­­pon Daishowa Paperboard Co.Ltd, Oji Paper Co.Ltd, Oji Speciality Paper Co.Ltd, Daio Paper Corporation, Hokuetsu Kishu Paper Co.Ltd, Mitsubishi Paper Mills Limited, dan Maru­sumi Paper Co.Ltd.

Mereka mengajukan keluhan dan permintaan penyelidikan yang ditujukan hanya kepada In­donesia. Dalam proses penye­lidikan tersebut, pihak Jepang me­ngajukan daftar pertanyaan yang harus diisi 11 perusa­haan kertas Indonesia.

Ke-11 perusahaan itu adalah PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk, PT Kertas Basuki Rachmat Indo­nesia Tbk, PT Kertas Leces (Persero), PT Lontar Papyrus Pulp and Paper Industry, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk, PT Parisindo Pratama, PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills, PT Riau Andalan Kertas, PT Riau An­dalan Pulp and Paper, PT Su­parma tbk,  PT Surabaya Agung Industri Pulp and Paper Tbk.

Sementara Disney me­ngu­mum­kan penolakannya untuk menggunakan kertas dan serat yang terkait dengan perusakan hutan dan kekerasan hak asasi manusia (HAM). Kertas dan serat itu berasal dari negara mana pun di dunia, termasuk Indonesia.

Kebijakan Walt Disney, yang juga menjadi penerbit buku dan majalah anak terbesar di dunia ini, diperkirakan berdampak pada hampir 25 ribu pabrik di 100 ne­gara, termasuk 10 ribu pabrik di China. “Kebijakan soal kertas ini adalah contoh bagai­ma­na Disney mengembangkan bisnis secara bertanggung jawab pada lingku­ngan dan sosial,” ujar Wakil Pre­siden Senior Disney bidang Kon­servasi, Lingkungan dan Kewar­ga­negaraan Perusa­ha­an Beth Stevens seperti dikutip Environ­ment News Service.

Aliansi Maha­siswa Tolak LS­M Asing (Lembaga Swadaya Ma­syarakat) menge­cam keras se­ruan boikot produk hutan Indo­nesia yang dilakukan oleh Green­peace. Aliansi maha­siswa ini menegas­kan, guna me­nye­lamatkan per­eko­nomian In­do­nesia dari pen­jajahan gaya ba­ru, ratusan bah­kan ribuan mas­sa akan meng­usir paksa Green­pea­ce dan LSM asing dari In­donesia.

“Pemerintah terlalu si­buk jadi tidak sempat menindak tegas LSM asing antek penja­jahan gaya baru, maka kami akan menge­rahkan ribuan massa untuk me­ngu­sir paksa LSM asing Green­peace dan antek-anteknya dari Bu­mi Per­tiwi,” ancam Koor­di­­nator Tim Aliansi Mahasiswa To­lak LSM Asing Rudy Gani, ke­marin.

Menanggapi penolakan ter­sebut, Wakil Menteri Per­da­gang­an Bayu Krisnamurti berjanji akan segera mengundang Walt Dis­ney. Perusahaan ini akan di­ajak untuk melihat proses pro­duksi kertas di Indonesia.

“Ba­gaimana pun tudingan ini harus disikapi secara serius,” ce­tusnya. [rmol/hta]

Emas Naik Diatas $5.200 Per Ons, IHSG Dibuka Di Zona Hijau

Sebelumnya

Aktivitas Pengiriman Terus Bertumbuh, Lion Parcel Perkuat Infrastruktur dan Layanan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Ekonomi