Mereka bergeser dari depan gerbang DPR ke seberang gerbang masuk Kementerian Kehutanan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, yang berdekatan letaknya.
Sebuah rangkaian tenda besar dan beberapa tenda kecil berdiri di jalur hijau yang membelah jalan di depan kantor Menteri Zulkifli Hasan. Sepanjang malam, para petani tidur beralasakan terpal dan tikar di tanah becek, menahan dinginnya musim hujan yang melanda Jakarta.
Kaum bapak, ibu dan bahkan anak-anak campur baur. Entah bagaimana cara mereka menyelesaikan urusan mandi, cuci, kakus. Kesannya memang sangat kumuh. Mereka terpaksa menjemur pakaian kotor pada tali yang diikat pada batang pohon. Tampak juga beberapa bendera merah yang jadi simbol perlawanan rakyat.
Sebuah spanduk dengan warna dasar merah bertuliskan "Kembalikan Tanah Rakyat" seolah jadi penanda semangat petani yang tidak pernah padam.
Petani Jambi cuma ingin bertemu Menteri Zulkifili dan menyampaikan harapan mereka mendapatkan kembali tanah rakyat yang dirampas pengusaha. Tapi, tidak mudah untuk bertemu pejabat negara di Jakarta. Mulai dari hantaman pentungan dan kepalan tangan aparat yang dirasakan, sampai ditelantarkan seperti warga yang kehilangan kewarganegaraannya.
Satu-satunya solidaritas dan empati kepada petani berasal dari gabungan-gabungan kelompok mahasiswa, buruh atau rakyat miskin di Jakarta. Setidaknya, sumbangan air mineral pun cukup membantu.
"Tiba-tiba ada orang yang mengantarkan satu sampai dua dus air mineral kepada kami. Mereka yang mengantarkan air tersebut kita tidak kenal," kata koordinator aksi petani, Utut, saat ditemui di tengah-tengah petani, Rabu (21/11).
Para petani juga mendapat sumbangan dari gerakan mahasiswa yang menyumbangkan tenda, pakaian layak pakai dan alas untuk mereka tidur.
"Kami atas nama petani Jambi menyampaikan banyak terima kasih kepada kawan-kawan yang telah memberikan bantuannya baik moril ataupun materil. Kalau tenda kita sebenarnya sudah membawa dari Jambi, tetapi semua itu habis dirampas Pamdal DPR, Satpol PP dan petugas kepolisian Jakarta Pusat," ungkap Joko Supriyadi, perwakilan petani Jambi.
Petani dan Suku Anak Dalam menuntut janji Menteri Kehutanan mengeluarkan SK untuk enclave 8.000 hektar tanah adat di Kunangan Jaya II dan tanah seluas 3.482 hektar milik petani Mekar Jaya yang dikuasai perusahaan swasta. [rmol/hta]
KOMENTAR ANDA