Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Sumut, Muslim Simbolon pada saat temu ramah masyarakat Kecamatan Air Joman dan Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan, dengan Cagubsu nomor urut 1, Gus Irawan Pasaribu, di Asahan.
"Pengalaman masa lalu sudah memberi pelajaran bagi masyarakat Asahan. Di sini ada istilah politik daun salam. Ketika menggulai, daun salam dicari dan dibutuhkan, walaupun sudah kering dan pecah-pecah. Tapi begitu gulai sudah masak, jangankan dihidangkan, daun salam justru ditinggalkan dan dibuang," ujar Simbolon.
Dia mengungkapkan, masyarakat Sumut sudah pintar menemukan sosok pemimpin yang layak. Ada indikator yang jelas untuk menentukan pemimpin Sumut, yakni punya kebijakan pro rakyat dan catatan prestasi dan pengabdian yang baik.
“Tidak ada jalan lain bagi kami, jika ingin Pilkada ini tidak hanya menjadi kegiatan limatahunan, maka kami bersepakat untuk mencari sosok yang benar-benar perduli ekonomi masyarakat. Bahkan itupun harus teruji dengan track record pemimpin tersebut, harus benar-benar telah menunjukkan bukti dan baktinya untuk Sumut,” ujar Muslim.
Nazamuddin, seorang warga Asahan mengungkapkan hal yang sama. Nazamuddin mengeluh sebab tidak ada keberpihakan kebijakan terhadap masyarakat, sehingga persoalan infrastruktur, seperti jalan, tidak kunjung selesai meskipun itu kebutuhan yang benar-benar harus diperhatikan.
“Bertahun-tahun kami melewati jalan yang sudah tidak layak pakai lagi, dan ini tidak ada perkembangan berarti,” ujarnya.
“Kami sudah buktikan kerinduan masyarakat terhadap pemimpin yang pro rakyat dan perduli ekonomi kerakyatan. Acara ini terlaksana dan, seluruh yang ada adalah swadaya. Ribuan masyarakat menunjukkan betapa kami ingin memiliki pemimpin yang bisa bawa perubahan,” sambungnya.
Tokoh masyarakat Kecamatan Silau Laut, Agus Marpaung, menyatakan masyarakat setempat senang ada calon gubernur yang datang ke daerah mereka. “Kami senang dan berbangga hati. Malam ini kami bisa melakukan temu ramah. Kami simpati dengan program-program Gus mengenau kemiskinan dan membangun infrastruktur. Itulah yang dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Menyikapi keluhan warga soal buruknya infrastruktur jalan di Asahan, Gus menilai persoalan tersebut karena tidak adanya mindset ekonomi pemangku kepentingan saat ini, sehingga pembangunan dianggap sebagai pengeluaran, bukan investasi.
“Jika dibiarkan kondisi jalan seperti ini, tentu sangat disayangkan karena akan membuat inefesiensi dalam segala bidang. Jika ini dinilai sebagai investasi, aka sudah barang tentu pembangunan bisa jauh lebih baik dan merata sampai daerah,” tandas Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumatera Utara ini. [ded]
KOMENTAR ANDA