Dengan demikian memenangkan pemilihan gubernur di Sumatera Utara memberikan sumbangan besar terhadap upaya partai yang dipimpin mantan presiden Megawati Soekarnoputri itu memenangkan pertarungan di tingkat nasional.
Sejauh ini dari survei yang dilakukan sejumlah lembaga riset politik dapat disimpulkan bahwa PDIP memiliki peluang besar merebut kembali kemenangan seperti yang terjadi di tahun 1999. Sejauh ini PDIP digambarkan bersaing ketat dengan Partai Golkar untuk merebut posisi puncak.
Tetapi Taufik Kiemas khawatir dengan kemampuan calon gubernur Sumatera Utara dari kubu PDIP, Effendi Simbolon, memenangkan pertarungan merebut kursi Sumut-1. Di mata suami Megawati ini, Effendi Simbolon seperti tidak begitu percaya diri menghadapi pertarungan.
Indikasi ini, sebut Taufik Kiemas ketika berbincang dengan pimpinan MedanBagus.Com di ruang kerjanya di lantai 9 gedung Nusantara II di kompleks Senayan, hari Kamis lalu (31/1), antara lain dapat dilihat dari keterlibatan Megawati dalam kampanye Effendi Simbolon di Sumatera Utara dalam satu bulan terakhir.
"Dulu waktu dia mau jadi anggota DPR, Mbak Mega juga ikut kampanye. Sekarang mau jadi gubernur juga pakai Mbak Mega. Kalau dia hebat mestinya kan tidak begitu. Bertarunglah sendiri," ujar Taufik.
Sepanjang Januari lalu Megawati sudah dua kali mengunjungi Sumatera Utara dan berkampanye untuk Effendi Simbolon. Kunjungan pertama tanggal 5 Januari dan kunjungan kedua tanggal 26 Januari.
Keterlibatan Megawati dalam kampanye Effendi Simbolon ini lebih jauh memperkuat "tesis" Taufik Kiemas bahwa regenerasi dan kaderisasi di partai itu agak bermasalah. Di saat kelompok senior diharapkan meneruskan kepemimpinan kepada yang lebih muda, eh kelompok anak muda di PDIP, dalam hal ini Effendi Simbolon, malah menggantungkan karier politiknya pada tokoh senior.
Sementara kalangan menilai ketidakpercayaan diri Effendi Simbolon itu juga terlihat dari begitu banyak billboard dan baliho bergambar dirinya dan pasangannya dalam pilgubsu di tengah kota Medan dan kota-kota lain di Sumatera Utara.
Selain sebagai bentuk ketidakpercayaan diri, pameran senyum Effendi Simbolon ini juga dapat dibaca sebagai pengakuan bahwa dirinya tidak merakyat, atau setidaknya, tidak dikenal masyarakat Sumatera Utara. [zul]
KOMENTAR ANDA