Anggota Komisi III DPR Ahmad Yani menyakini demo bayaran merajalela pada saat mendekati pemilu. Demo model ini, kata dia, fenomena biasa yang muncul mendekati masa kampanye dan pemilu.
Aksi demonstrasi, menurut dia, sah-sah saja sepanjang tidak berujung anarkis dan melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Secara konstitusional hak setiap warga negara menyampaikan aspirasinya. Termasuk dengan cara turun ke jalan.
“Aksi demonstrasi efektif dijadikan alat penekan terhadap kelompok tertentu. Jadi demo bayaran itu hal yang lumrah jelang pemilu. Apalagi iklim politik kita sekarang tidak kondusif. Banyak kelompok yang bermasalah,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Anggota Komisi Hukum DPR ini memperkirakan, jelang pemilu presiden (Pilpres) dan pemilu legislatif (Pileg) 2014 calo demo akan tumbuh subur. Calo demo akan mancari mangsa dari kalangan politisi, pejabat dan pengusaha untuk dijadikan donatur. Calo demo juga akan menjadikan politisi, pejabat dan pengusaha sebagai sasaran demontrasi.
Politisi PPP ini mengatakan, jelang Pemilu 2014 calo demo akan kebanjiran order dari kalangan pengusaha, penguasa, dan pejabat untuk menggalang dan menyiapkan massa demonstran. Pengorder demo biasanya memiliki kepentingan untuk menjatuhkan individu ataupun kelompok tertentu.
“Calo akan menjadikan demo sebagai bisnis subur,” katanya.
Menurut Yani fenomena demo bayaran sulit untuk dihindari menjelang pemilu. Soalnya, banyak masyarakat yang masih terhimpit kebutuhan ekonomi. Masyarakat yang terhimpit ekonomi banyak yang menjadikan demo sebagai penghasilan sampingan.
Kata dia, lemahnya ekonomi masyarakat tak semata-mata menjadi faktor pemicu tumbuh suburnya profesi calo demo dan massa demo bayaran. Faktor lain, masih banyaknya politisi, pejabat dan pengusaha yang suka melakukan pembusukan terhadap lawan.
Demo bayaran, jelas Yani, sebenarnya sudah ada sejak penjajahan Belanda. Pada Jaman kolonial pemerintah Belanda bahkan membentuk kelompok binaan yang dibayar untuk menghalau kekuatan rakyat yang memperjuangkan kemerdekaan.
“Maraknya demo bayaran menandakan bangsa ini sedang sakit. Dan bukti kegagalan parpol kita memberikan pendidikan politik. Banyak anak muda yang tidak bisa bekerja secara profesional akhirnya mereka mencari uang dengan jalan singkat melalui demo bayaran, belum lagi dipicu kondisi ekonomi yang makin susah,” cetusnya. [Rakyat Merdeka]
KOMENTAR ANDA