post image
KOMENTAR
Beberapa waktu lalu politisi senior PDI Perjuangan Taufik Kiemas mengkritik kampanye calon gubernur Sumatera Utara dari kubu partai moncong putih itu, Effendi Simbolon.

Kata Taufik saat bertemu pimpinan MedanBagus.Com di ruang kerjanya di kompleks Senayan, Jakarta, awal Februari lalu, dirinya meragukan kemampuan Effendi Simbol dalam pemilihan Gubsu. Keraguan itu antara lain didukung kenyataan bahwa Effendi Simbolon terlalu melibatkan Megawati untuk memenangkan pemilihan gubernur.

Sepanjang bulan Januari lalu, Megawati mengunjungi Sumatera Utara sebanyak dua kali.

"Dulu waktu dia mau jadi anggota DPR, Mbak Mega juga ikut kampanye. Sekarang mau jadi gubernur juga pakai Mbak Mega. Kalau dia hebat mestinya kan tidak begitu. Bertarunglah sendiri," ujar Taufik ketika itu.

Hal itu disampaikan Taufik ketika sedang membicarakan persoalan regenerasi di PDIP. Ketua MPR RI itu sangat berharap kader-kader muda tumbuh dan berkembang untuk menggantikan tokoh-tokoh PDIP yang semakin sepuh. Tetapi harapan itu sulit diwujudkan. Ia melihat keengganan tokoh senior PDIP untuk memberikan tempat bagi kader muda. Sementara di saat bersamaan, kader muda PDIP juga terlalu mengharapkan dukungan tokoh senior. Salah satu buktinya adalah kehadiran Mega di Medan untuk membantu kampanye Effendi Simbolon.

Sejak kemarin hingga hari ini (Minggu, 3/3) Megawati kembali mengunjungi Sumatera Utara untuk membantu kampanye Effendi Simbolon. Mega tidak datang sendirian. Ia membawa Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang dianggap akan menjadi magnet besar yang dapat mengalihkan dukungan kepada Effendi Simbolon.

Sementara kalangan meragukan efektifitas kehadiran Jokowi itu. PDIP juga melibatkan Jokowi dalam pemilihan gubernur Jawa Barat yang baru berlalu. Tetapi tetap saja jago PDIP kalah.

"Rasanya akan sangat susah (menang). Tiap daerah punya parameter tersendiri. Buktinya, di Jawa Barat kehadiran Jokowi nggak berpengaruh banyak," kata Prof. Asep Warlan Yusuf dari Universitas Parahyangan, Bandung, mengomentari kehadiran Jokowi di arena pilgubsu, Sabtu malam (2/3/2013).

"Di pilkada Jakarta, Jokowi memang tidak perlu pidato. Dia hanya cukup blusukan dan bertemu warga. Tapi sebagai jurkam, tidak mungkin dia blusukan dari kampung ke kampung. Dia harus pidato. Tapi Jokowi tidak punya kemampuan itu. Jadi tidak akan efektif," sambung Prof. Asep.

Jadi mengapa Effendi Simbolon melibatkan Megawati dan Jokowi dalam kampannye? Apakah PDIP tidak khawatir ini akan semakin memperkuat kesan Effendi Simbol yang kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 1 Desember 1964 ini tidak ada hebatnya dalam konteks pemilihan gubernur Sumatera Utara? [zul]

Menghilangnya Karakter Kebangsaan pada Generasi Z

Sebelumnya

Hilangnya Jati Diri Seorang Siswa

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Opini