"Kami berdemonstrasi untuk memprotes tindakan intimidasi dari pihak Lonsum (PT PP London Sumatera Indonesia Tbk) terhadap karyawan saat membentuk SPMI di sana. Perusahaan memberangus pengurus-pengurusnya. Ada yang dipecat," teriak Amin Basri, Ketua DPC SPMI Kota Medan, di sela-sela unjuk rasa saat hujan gerimis.
Amin menuturkan, sekitar 20 karyawan Lonsum yang diintimidasi, termasuk yang dipecat, turut serta dalam demo ini.
Tak hanya itu, sebut Amin, mereka didukung pengurus SPMI yang berasal dari 12 perusahaan lain. Selain memprotes intimidasi, demo ini digelar karena SPMI menilai perusahaan juga melanggar aturan pengupahan.
"Tujuan kami adalah kami ingin membuka mata semua pihak bahwa berpuluh tahun buruh perkebunan di bawah upah minimum. Karyawan PT Lonsum di Serdang Bedagai hanya diupah Rp1.416.000, padahal upah mimimun di sana Rp1.490.000," ucapnya.
Sejumlah perwakilan pengunjuk rasa diajak berdialog di dalam kantor perusahaan perkebunan ini. Jika tidak ada kesepakatan dari pertemuan itu, Amin mengaku, SPMI akan menggelar demo lebih besar pada tanggal 10 April 2013 mendatang.
"Kami tetap pada tuntutan kami, agar kembalikan karyawan ke posisi semula. Lonsum juga jangan mengintimidasi lagi. Yang lebih penting, sesuaikan upah dengan peraturan berlaku," tegasnya.
Selain berorasi, pengunjuk rasa juga berjoget ria diiringi musik dari pengeras suara yang mereka bawa dengan mobil pick up.
Tak hanya itu, seorang polisi pun terlihat ikut berjoget dangdut bersama pengunjuk rasa. Akibat dari unjuk rasa ini, kemacetan pun terjadi di Jalan A Yani/Jalan Kesawan dan Jalan Pulau Pinang Medan. Demo berhenti setelah hujan mengguyur kawasan itu.
Kapolsekta Medan Barat, Kompol Nasrun Pasaribu SIK mengaku, pihaknya tetap menyiagakan personel.
"Personel kita siagakan untunk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, namun, proses unjuk rasa berlangsung dengan tertib dan aman," akunya. [ans]
KOMENTAR ANDA