''Pak Wiranto kepada kami-kami di Hanura, sudah mengatakan kalau terpilih jadi presiden pasti akan mundur sebagai ketua umum partai. Tidak akan urus Hanura lagi,'' kata Djafar, tadi malam.
Pernyataan itu dilontarkan Wiranto mencermati terpilihnya Presiden Yudhoyono sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Wiranto, kata Djafar, akan mundur dari partai karena ingin ‘mewakafkan’ dirinya untuk rakyat.
''Saya akan jadi milik seluruh rakyat Indonesia. Waktu seluruhnya untuk urus negara,'' kata Djafar mengutip pernyataan Wiranto.
Selain itu, dijelaskan Djafar, untuk urusan pembagian kursi menteri, Wiranto akan memprioritaskan kalangan profesional. Wiranto, kata Djafar, sadar betul untuk membenahi negara ini butuh menteri-menteri profesional. Menteri-menteri profesional, menurut Wiranto dalam bekerja tidak punya kepentingan politik, berbeda dengan menteri partai.
Ditanya berapa persentasi komposisi menteri profesional dengan partai, Djafar menjawab: ''Mungkin persentasenya 80 persen profesional, 20 persen dari partai politik. Dulu menteri Pak Harto itukan jago-jago karena memang orang hebat di bidangnya. Pokoknya tidak banyak orang parpol,'' ujarnya seperti dilansir Rakyat Merdeka Online.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN), Umar S Bakry, mengapresiasi komitmen Wiranto itu.
Cuma persoalannya, lanjut Umar, Wiranto bisa nggak konsisten menjaga sikapnya itu. Sebab dukungan parpol untuk pemenuhan syarat pencapresan sangat dibutuhkan.
''Dengan begitu realitas politik kita kan memaksa adanya koalisi dan anggota koalisi pasti menuntut jatah. Termasuk dari Partai Hanura sendiri kalau menang,'' sindirnya.[ans]
KOMENTAR ANDA