"Puasa panjang di UK membutuhkan persiapan ekstra, pertama persiapan fisik, karena harus berpuasa hampir 19 jam, dan volume pekerjaan tidak berkurang. Kedua, persiapan mental juga karena puasa terjadi di musim panas, dimana gangguan’ nya lebih lengkap. Ketiga, manajemen waktu, karena jarak dari Maghrib, Tarawih hingga Sahur sangat singkat, sehingga untuk mengoptimalkan ibadah di malam hari, tanpa mengganggu aktivitas siangnya perlu manajemen dan perencanaan yang lebih rapi," tutur Idham.
Rasa solidaritas yang lebih kuat antara sesama muslim akan terjalin, dan juga persahabatan yang lebih erat dengan non muslim, ketika tahu kita berpuasa, dan mereka mencoba berinteraksi dan bertoleransi .
Tantangannya adalah bagaimana menampilkan sosok muslim yang tetap bagus kinerjanya ketika puasa, dan tetap akrab dengan masyarakat Inggris khususnya yang tinggal di Colchester yang lebih dari 90 persen adalah penduduk asli.
Beda dengan di London yang masyarakatnya multikultural dan bahkan di pusat perbelanjaan di Oxford Street wanita bercadar jalan beriringan dengan wanita berbusana minim.
Idham Anata mengakui senang dengan kisah beberapa mualaf seperti adik ipar mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair, Lauren Booth yang pernah mengisi acara di Essex University dalam acara Islamic Awarness.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam itu universal, tidak hanya untuk suku, ras, atau bangsa tertentu saja. Kenyataan bahwa salah satu keluarga pejabat teras Inggris masuk Islam juga menunjukkan bahwa Islam pun bisa berinteraksi dengan baik di kalangan elit maupun non elit.
Banyaknya pemain sepakbola yang muslim yang saat ini berlaga di Liga Inggris juga memperlihatkan gambaran utuh bahwa Islam bisa diterima dan berinteraksi dengan semua orang secara damai, akrab, dan hangat, demikian staf pengajar Jurusan Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA di Gadjah Mada University. [yhu]
KOMENTAR ANDA