post image
KOMENTAR
OSCAR sudah mati! Sebenarnya belum. Tapi dia sudah sekarat. Dan sekarang sudah terbujur mengambang di permukaan kolam.

Ikan-ikan kecil mulai merubunginya. Mengitarinya, dan saling melempar pandang. Yah, ratusan ikan kecil tengah mencoba menjadi saksi mata bagi kematian Oscar, ikan terbesar yang ada di kolam belakang rumah.

…………"biarin, biar cepat mati!" kutuk seekor ikan kecil.

Oscar mendengar serapah itu. Namun tak bisa berbuat apa-apa. Sekarang dia menyadari kelemahan dirinya. Ikan besar yang tua, yang hampir habis nyawanya

Oscar masih mengambang. Mulutnya menganga, insangnya kembang kempis, memompa udara lebih banyak lagi. Matanya melotot. Oscar meregang nyawa. Di balik riak kolam di belakang rumah.

***
Kabar kematian Oscar pertama kali diterima seisi kolam pada pukul tujuh pagi tadi.

Satu per satu, ikan-ikan kecil yang mendengar kabar tersebut keluar dari persembunyiannya. Dari jelaga, dari timbunan sampah, dari rumbai-rumbai eceng gondok, dari celah-celah batu yang bisa menyembunyikan diri mereka dari keberingasan  Oscar.

Ikan-ikan kecil itu berkumpul di suatu tempat yang lapang. Satu-satunya daerah terluas yang ada di dasar kolam. Berbondong-bondong mereka mengumpul di sana. Awalnya sepuluh ekor, lalu bertambah menjadi seratus, dua ratus ekor, seribu hingga tak terkira banyaknya.

Sebelumnya mereka tak pernah menyangka akan begini: keluar dari persembunyian, lalu berkumpul di lapangan, tempat si Oscar biasa mengasoh, sambil menangkapi anak-anak mereka.

"Benarkah dia sudah mati?"
"Benar-benar mati"
"Kenapa mulutnya masih bergerak?"
"Dia minta ampun pada Tuhan"
"Oscar punya Tuhan?"
"Dia ikan jahat"
"Dia ikan besar yang doyan makan anak-anak kita,"
“Kapan matinya?”
"Ah.. biarin, yang jelas dia tahu rasa sekarang,"
"Dasar Ikan Kaleng!,"

Ikan-ikan masih bertanya-tanya soal kematian dan mengutuk Oscar.

"Tak mungkin, dia ikan hebat,"
"Betul, dia kuat,"
"Dia paling besar di sini…"
"Tak mungkin dia mati, salah berita kali…"

Di lapangan itu ikan-ikan masih berkumpul. Menanti kejelasan soal kematian Oscar. Ada yang menganggap berita itu benar. Ada yang beranggapan berita itu keliru, sebab ada banyak ikan bernama Oscar di kolam itu. Namun ada yang menganggap berita itu benar-benar salah.

"Tidak mungkin, itu cuma mimpi ikan kecil dan bodoh seperti kalian,” ujar Sura, salah seekor ikan yang senang bertapa di balik rerimbunan lumut di dasar kolam.

Ikan-ikan kecil yang hadir di tempat itu kaget. Melihat kehadiran Sura di tengah mereka.

Betul, Sura adalah salah seekor ikan kecil yang cerdas di kolam itu. Jarang-jarang dia muncul di depan umum. Sebab selain masa Oscar berkuasa, tak aman bagi ikan kecil, Sura juga dikenal sebagai ikan yang a-sosial. Tidak bergaul dan cenderung egois.

"Diam kau!" tiba-tiba ada suara yang nyelonong dari barisan ikan-ikan yang tengah berkerumun.

Itu suara Ambo, ikan terkuat di antara ikan-ikan kecil. Meski kuat dia tetap tak berani menghadapi Oscar sendiri.
"Tidak benar! Aku menyaksikannya, Oscar sudah mati. Kita merdeka. Tak ada Oscar lagi sekarang," sambungnya.

"Iya,"
"Kita merdeka,"
"Sekarang juga,"

***
Di tempat lain, di mana Oscar tengah mengambang meregang nyawa, riak air begitu tenang. Tiada suara seketip pun yang mengganggu proses kematiannya.

Sunyi, sebuah sisi lain yang sepi. Jauh dari hiruk pikuk ikan-ikan yang menyangsikan kematiannya. Jauh dari mimpi ikan-ikan kecil yang mengharapkan kematiannya.

Ditengah kesakitannya menahan maut, dia terbawa arus ingatan masa-masa lampau, kejayaan seekor ikan besar, lalim dan tiran. Ikan yang ditakuti penghuni lain di kolam. Siapa yang tak kenal Oscar, si penguasa tunggal kolam. Semua ikan kecil bermanis-manis sikap bila berpapasan dengannya. Tak ada yang berani macam-macam, apa lagi berlagak jagoan.

Oscar tersenyum, dia masih menahan sakit di mulutnya. Sejak mata kail yang ditelannya seminggu lalu, sakit itu semakin menyiksanya. Hingga puncaknya, dia tak bisa lagi berbuat apa-apa. Kecuali merintih sendiri di sebuah sudut lain di permukaan kolam.
 
***
"Mati atau tidak, kita harus merdeka sekarang," giliran Aji yang berbicara sekarang. Tokoh muda dengan pengikut yang banyak itu muncul di tengah-tengah kerumunan. Dengan meyakinkan dia mencoba memaksa agar ikan-ikan kecil berani untuk menentukan nasib sekarang juga.

"Oscar sudah tamat, sekarang kita bisa hidup aman dan damai," katanya lagi.

"Bagaimana caranya? Oscar belum mati benar, dia masih sekarat. Kalau dia sembuh dan tak jadi mati bagaimana?" seekor lagi bertanya.

Aji diam. Dia membisu. Begitu pula dengan pengikutnya.

Tinggal Sura, yang masih tetap bertahan mengoceh. "Meski Oscar belum mati, tapi dia sekarat. Kita harus membentuk panitia kecil untuk menyambut kemerdekaan," orasinya. Ikan yang tak dikenal baik warga kolam tersebut, perlahan mulai mendapat perhatian.

"Tidak! Kita percepat saja kematiannya!" sambung Bosang, ikan kecil dengan mulut yang besar. "Sudah tak ada waktu, kita mesti merdeka sekarang, bersatu menghancurkan dominasi Oscar. Sudah bukan masanya dia berkuasa," pidatonya.

Ikan-ikan kecil di dasar kolam mulai risih. Suara-suara mulai memenuhi air. Antara berani bertindak dan ragu-ragu, lantas seekor dari ikan kecil itu bertanya, "Wahai Bosang, yang besar bicara, bagaimana kita bisa memercepat kematiannya?"

"Yang pasti bukan dengan panitia-panitaan, ini darurat. Tak bisa dirundingkan dulu. Kita bergerak sekarang, atau tidak sama sekali!" teriaknya. Sura diam. Sementara Aji dan pengikutnya berenang tenang menyombongkan diri di barisan terpisah.

"Dia sudah lemah, tiada punya kekuatan. Kita bunuh dia!" sambung Bosang dengan meyakinkan.

Ikan-ikan kecil mulai bersorak.
"Bunuh Oscar,"
"Merdeka,"
"Aku mau makan kepalanya,"
"Aku lambungnya,"

Ikan-ikan kecil bersorak puas. Niat mereka mengepung Oscar semakin kuat. Sekarang sudah tak ada lagi yang menjadi halangan untuk mereka hidup merdeka dari teror Oscar. Namun diantara mereka, masih ada juga yang ragu untuk bergerak menuju Oscar meregang nyawa.

***
Oscar masih terkenang masa lalunya, ketika satu per satu ikan kecil menghampirinya.

Mulutnya menggapai udara. Dia tahu, ini sudah masanya dia meninggalkan kolam untuk selamanya…

***
"Tuh, apa yang kukata? Dia masih bergerak," akhirnya salah seekor ikan berani membuka suara.
"Tak masalah, kita sergap dia sekarang juga"
"Biarin, biar cepat mati!" kutuk seekor ikan kecil.

Oscar mendengar serapah itu. Dia ketakutan. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.

"Ayo, kita serang dia," perintah salah seekor dari ikan yang berkerumun.
Namun semua diam bergeming.
Aji dan kelompoknya berenang di barisan terbelakang. Demikian Sura, yang terpana di dalam barisan.

"Kemana Bosang?"
"Kita butuh relawan,"
"Harus ada yang maju sekarang,"

Semua ikan berbisik cemas. Semakin dekat dengan Oscar, semakin barisan ikan kecil was-was.
"Benar dia sudah tak berdaya?" tanya seekor ikan yang masih ragu.

Permukaan kolam hening ketika itu. Semua begitu khidmat menunggu saat yang tepat untuk menyerang Oscar.
Belum ada yang berani bergerak menyongsong Oscar yang tengah merintih kesakitan.

Bosang ada di tengah barisan ikan-ikan kecil. Namun dia seolah kehilang daya magis. Tak ada satu kata pun yang meluncur dari mulutnya yang besar. Kecuali sebaris kalimat, “Sekarang atau tidak sama sekali,”

Tetapi agaknya ikan-ikan kecil yang kian mendekati Oscar tak mendengar teriakan Bosang. Kini ikan-ikan kecil itu begitu ragu. Sirip mereka bekelebat di tempat. Perlahan permukaan kolam di belakang rumah mulai berombak.

Oscar memalingkan wajahnya. Sambil menahan sakit di mulut, dia mulai menggerakkan tubuhnya yang sudah mengambang lepas di permukaan kolam. Kaget Oscar bergerak. Ikan-ikan kecil mundur ke belakang. Tubuh mereka yang tak lebih besar dari daun cabe mengigil ketakutan.

Sirip Oscar mulai bergerak. Ekornya bergoyang, menciptakan ombak yang besar. Ikan-ikan kecil surut ke belakang. Mereka gentar menghadapi Oscar yang sudah tak berdaya. Malah, sebagian dari mereka membubarkan barisan, dan berenang menjauhi kerumunan.

"Heh!" Oscar mendesah. Suaranya yang masih sangar, terdengar samara-samar. Mungkin mata kail yang menancap di langit-langit mulutnya sudah menimbulkan penyakit yang akut. Sehingga suaranya terdengar tidak begitu jelas.

"Ada apa kalian datang ke mari?" tanya Oscar.

Barisan ikan-ikan kecil semakin buyar. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Oscar. Untuk sesaat permukaan kolam hening.
Sura, melepaskan diri dari rantaian gerombolan ikan. Dia melarikan diri kembali ke lapangan luas di dasar kolam.

"Kalian kira gampang untukku menemui maut?" geram Oscar. Perlahan dia berenang mendekati kerumunan ikan.
Ikan-ikan kecil panik. Terpana tak percaya melihat Oscar yang bangkit dan malah menyongsong mereka.

"Apakah kalian pernah berpikir, siapa kelak yang akan memimpin kalian bila aku mati, heh?” dengan menahan sakit, Oscar berenang mendekati kerumunan ikan.

Semua ikan masih dalam posisi semula. Tak ada Sura, tak ada Aji, bahkan si ahli berdebat Bosang tak memperlihatkan moncongnya. Ikan-ikan kecil kehilangan pemimpin mereka. Mereka mulai sadar sudah dipermainkan.

"Siapa yang berani mendekat, heh?" dengan cepat dia menyambar seekor ikan di dekatnya. Dengan bangga, kemudian Oscar menelan bulat-bulat ikan kecil tersebut.
Tak sadar dengan luka di mulutnya, Oscar memamerkan sisa-sisa kekuatannya.

Semua ikan kecil histeris. Pecah sudah barisan barikade ikan kecil. Mereka berenang berhamburan, bertabrakan.

Seekor lagi ikan kecil ditangkapnya. Saat-saat terakhir, dia memberikan perlawanan. Oscar percaya, dia tak akan mati dengan segera.

Bosang ketakutan. Ketika Oscar menghampiri, dia berenang sekuat tenaga. Bosang bertabrakan dengan sesama ikan kecil. Dia tak menyangka, barisan yang dipilinnya dengan rapuh putus karena gertakan Oscar yang masih sangar.

Oscar semakin agresif. Dia lupa dengan mata kail yang ada di mulutnya. Sehingga pada ikan kecil kesekian yang dimangsanya, tiba-tiba tubuhnya meregang. Sakitnya tak tertahankan lagi.

Aji dan kelompoknya yang dari tadi melihat kekacauan di permukaan kolam, memanfaatkan kondisi Oscar yang mulai lemah.

Sekali pukulan dari Aji, masuk mengenai mata Oscar. Ikan besar itu limbung. Matanya menatap nanar. Sekali lagi sengatan dari Aji, telak kena mata yang satunya.

Tak memberi kesempatan membalas, kelompok Aji menghujani Oscar dengan pukulan. Oscar dikeroyok. Sisiknya yang tebal mulai terkelupas satu persatu.
Tak ada ampun, ikan-ikan kecil yang lain mulai ikut menghajar ikan besar yang tengah sekarat itu.

Darah segar mulai mengalir di permukaan kolam. Oscar dikerubuti ikan kecil. Dia melolong kesakitan. Bibirnya perlahan habis dimakan Bosang. Siripnya, dibawa lari seekor ikan kecil. Ekornya hampir putus dimakan ikan-ikan kecil.

Oscar meronta, tapi rontanya sudah tak berarti sekarang. Dia sudah mati. Untuk beberapa menit ke depan, dia pasti benar-benar mati.

"Aku dapat mulutnya," girang si Bosang.
"Aku dapat daging perutnya,"
"Jantungnya enak,"

Ikan-ikan berpesta di sisi Oscar yang masih meronta kesakitan.

"Sekarang, siapa yang menggantikan posisi Oscar?" tiba-tiba Aji bersuara. Hingar-bingar pesta sontak padam. Belum habis kegirangan mereka atas kekalahan Oscar, sekarang Aji sudah membicarkan calon pengganti Oscar.

"Tak ada yang pantas menggantikan dia selain aku," sahut Bosang, yang tengah menikmati potongan mulut Oscar. Ikan-ikan kecil serentak menoleh kepada Bosang. Mata mereka merah. Ikan-ikan kecil mulai muak dengan Bosang dan Aji.

"Diam! kau pengecut yang hanya bisa berbicara, tak pantas berkuasa di kolam ini," tandas Aji sambil menyemburkan potongan daging Oscar ke arah Bosang. Ikan dengan mulut besar itu tak terima. Bosang berhenti makan. Begitu pula dengan pengikutnya. Aji dan kelompoknya bangkit berenang menuju Bosang. Pesta ikan kecil rusak akibat perselisihan kelompok Aji dan Bosang.

"Hei, berhentilah menjadi pemenang. Kolam ini tak mengharapkan tiran baru," seekor ikan yang tengah menyantap daging Oscar mencoba menghentikan seteru mereka.

Namun sial, belum selesai dia menyambung kalimatnya, sebuah hantaman keras diberikan pendukung Bosang, tepat di matanya. Seketika ikan malang itu tewas.

Tak terima dengan keadaan itu, Aji mencoba menjadi pahlawan. Dititahkannya kepada pengikutnya untuk membalas perlakuan pendukung Bosang.

Perang tanding tak terelakkan. Bosang dan Aji saling membalas serangan. Awalnya mereka melakukan itu semua demi simpati dari ikan kecil yang ada di sana. Namun, ketika pertempuran menjalar sampai ke ikan kecil lain yang tahu menahu soal kepemimpinan, keadaan semakin kacau.

Permukaan kolam dipenuhi dengan ikan-ikan kecil yang berenang-renang, entah kehabisan ruang gerak, entah kehabisan udara.

***
Keesokan harinya, pukul tujuh lebih seperempat pagi, Oscar benar- benar sudah mati. Sepasang matanya hilang. Bagian atas tubuhnya tinggal tulang. Sisa-sisa ampas pesta kemenangan masih mengambang di permukaan kolam. Tak terlihat seekor ikan kecil pun yang masih menunggui bangkainya.

Sekarang Oscar benar-benar kesepian. Dia tak bisa mendengar apa-apa lagi sekarang. Dia tak bisa berbuat apa-apa jua. Dia mati. Tak bergerak lagi. Sampai pada akhirnya, di permukaan muncul seekor ikan kecil, malas mengibaskan siripnya. Pelan, didekatinya bangkai Oscar yang sudah rusak.

Ikan kecil itu, Sura. Setelah semalaman pesta pora, dia baru muncul sekarang.
Dengan lusuh dia berenang menghampiri bangkai Oscar.
"Setelah pesta berakhir, semuanya mendapatkan bagiannya masing-masing. Aji dan Bosang sudah menjadi Oscar yang baru, dan kami tetap tak bisa berenang dengan tenang," bisiknya.

Sura balik badan. Dikibaskannya siripnya dengan lebih semangat menuju persembunyiannya yang baru. Dia tahu, Oscar tak mungkin mendengar bisikannya. [***]
 

Ibu Tanah Air

Sebelumnya

16 Titik Api Dideteksi Di Sumatera, Singapura Berpotensi Berkabut

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Rumah Kaca