Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi saat Halal Bil Halal dan silaturahmi dengan pemuka agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (F-KUB) Sumut di Hotel Grand Jamee, Jl. Gagak Hitam Medan, Kamis (29/8/2013).
Dalam acara yang dihadiri sejumlah perwakilan dan tokoh agama Islam, Kristen, Budha, Hindu dan Kong Hu Cu, Tengku Erry mengatakan salah satu benteng kokoh menghempang konflik SARA adalah dengan membudayakan saling harga menghargai sesama pemeluk agama.
“Agama mayoritas tidak mengganggu pemeluk agama minoritas, begitu sebaliknya. Pemeluk agama yang satu tidak mendiskriditkan agama lain,” ujar Erry.
Selain itu lanjut Erry, jika muncul aliran kepercayaan maupun agama sempalan, tokoh agama dan pemuka masyarakat di Sumut langsung berkoordinasi mencari jalan keluar dari persoalan yang ada.
“Harmonisasi seperti ini harus dipertahankan demi terciptanya kondusifitas dan kerukunan umat beragama,” tambah Erry.
Sementara Ketua F-KUB Sumut yang juga selaku tokoh Islam, Maratua Simanjuntak menyatakan, harga menghargai dan saling memahami agama lain merupakan landasan menjaga kerukunan umat beragama di Sumut.
“Jika muncul aliran tertentu yang tidak sesuai dengan lima agama yang diakui negara, anggota F-KUB langsung berkoordinasi mencari solusi. Langkah ini efektif menyelamatkan keimanan dan ketaqwaan pemeluk agama masing-masing,” sebut Maratua. [hta]
KOMENTAR ANDA