post image
KOMENTAR
Sepekan terakhir, gelombang aksi unjukrasa terus dilakukan kepada PT Perusahaan Listrik Negara Sumatera Utara di Jalan Yos Sudarso, Medan. Demonstrasi dari sejumlah kalangan baik mahasiswa maupun organisasi kemasyarakatan tersebut mendesak agar tidak lagi terjadi pemadaman.

Sayangnya, aksi demo tersebut bukannya menyebabkan kondisi byar pet berkurang, justru semakin sering terjadi dengan intensitas yang cukup masif dimana sehari terjadi tiga dampai empat kali pemadaman dengan lama waktu rata-rata tiga jam setiap kali pemadaman. Dan itu terjadi hampir di seluruh wilayah di Sumatera Utara hingga Banda Aceh.

Aksi terakhir dilakukan ratusan mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Sumatera Utara, Kamis kemarin. Aksi itu dilakukan dengan membakar ban bekas pas di depan pintu gerbang kantor tersebut, melempari telur busuk dan botol bekas air mineral ke halaman kantor PLN.

Akibat aksi yang dimulai sekitar pukul 11.00 WIB itu bukan saja membuat karyawan PLN tidak bisa keluar-masuk ke kantor tersebut, tetapi juga menggangu kelancaran lalu lintas.

Aksi unjuk rasa itu bahkan sempat memanas, saat mahasiswa yang berupaya menerobos masuk ke dalam kantor PLN dengan cara memanjat pagar dihadang oleh aparat kepolisan yang sebelumnya terlihat sudah berjaga-jaga di kantor itu.

"Demonstrasi terus dilakukan karena melihat sikap PLN yang tidak serius mengatasi krisis listrik yang dibuktikan dengan fakta bahwa bukannya pemadaman berkurang tetapi malah bertambah setiap hari,"kata koordinator aksi, M Ikhsan Syahreza kepada wartawan.

Bagi kalangan pelaku usaha, pemadaman listrik yang masih berlangsungini tentu memberikan dampak kerugian bagi mereka. Soalnya pemadaman listrik ini membuat biaya produksi mereka membengkak. Ini dikarenakan penambahan biaya untuk membeli solar mesin genset.

"Karena selama pemadaman berlangsung kami menggunakan genset agar produksi tetap berjalan," ujar Tya, pelaku usaha keripik pedas di daerah Karang Sari, Medan Johor.

Dikatakannya, setiap listrik padam, dia harus merogoh kocek 50 ribu untuk membeli minyak solar sebagai bahan bakar mesin genset.

"Keuntungan sehari bisa habis untuk membeli solar. Tolong lah bang, sampaikan ke PLN jangan buat kami rugi terus," ujarnya.

Sementara Deputi Manager Distribusi Teknik P Siahaan, sebelumnya, menegaskan bahwa persoalan pemadaman masih belum bisa terselesaikan karena perbaikan pembangkit belum tuntas juga defisit yang cukup besar atau hingga 340 Megawatt (MW).

Pembangkit yang rusak itu adalah PLTU Labuhanangin sebesar 80 MW dan GT 2.2 Belawan 180 MW.

"Sesuai perhitungan, baru Senin 10 Maret 2014 kedua pembangkit tersebut akan dioperasikan lagi,"katanya.

Dia juga menjelaskan, beberapa pembangkit yang harusnya pada tahun ini sudah dioperasikan yakni PLTU Naganraya dan PLTU Pangkalansusu, nyatanya tertunda lagi.

PLTU Naganraya, misalnya masih dalam proses uji coba dan PLTU Pangkalansusu, pembangunan jaringannya belum selesai. [ded]

Komunitas More Parenting Bekerja Sama Dengan Yayasan Pendidikan Dhinukum Zoltan Gelar Seminar Parenting

Sebelumnya

Sahabat Rakyat: Semangat Hijrah Kebersamaan Menggapai Keberhasilan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Komunitas